On Duty | Opini | Pregnancy

“Jangan hukum aku bu!”

By on September 22, 2017

Beberapa minggu lalu, saya berpartisipasi dalam Kelas Kurikulum yang diadakan oleh Keluarga Kita  mengenai Disiplin Positif pada anak. Emang semenjak mengandung calon bayik, jadi punya ketertarikan dengan topik parenting. Buat jadi bahan persiapan sebelum si bayik lahir 😎. Berbekal googling soal “Apa itu keluarga kita” tanpa panjang lebar saya langsung daftar menjadi relawan dengan ikutan kelas kurikulum ini dan syukurnya diterima.

Di awal pertemuan, saya sudah dibuat melek dengen pertanyaan tentang “SIAPA YANG PERNAH DIHUKUM ORANG TUA!!” Sontak banyak peserta kelas yang tunjuk tangan dan berbagi cerita. Tampaknya ingatan soal cubitan, dan omelan gak lepas dari masa tumbuh kembang peserta di kelas. Lalu ketika ditanya “APAKAH KITA INGAT APA YANG MENYEBABKAN KITA DIHUKUM?” rata-rata kami semua terdiam, karena baru menyadari bahwa kami sebagian besar dari kami tidak tahu alasan kenapa kami dihukum 😓.

Continue Reading

On Duty | Opini | Review

5 gaya hidup pekerja lepas industri kreatif yang bikin iri!

By on September 21, 2017

Setelah bekerja kantoran selama hampir 6 tahun, di tahun 2016 saya memutuskan bekerja secara freelance. Bukan karena pemasukan dan peluang yang lebih besar, tapi as simple as being a freelancer you can control your time.

Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Berkaf) telah menetapkan 16 subsektor yang didukung dalam industri kreatif, di antaranya yaitu aplikasi dan pengembangan permainan, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fesyen, film, fotografi, kriya, kuliner, music, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, serta televisi dan radio.

Bersyukurnya saya mendapatkan suami yang bekerja di industri kreatif bidang film & periklanan. Jika saya aktif menulis, suami aktif dibagian editing dan penyutradaan video. Suami  berprinsip yang sama soal pekerjaan, lebih baik berstatus pekerja lepas dibandingkan jadi pekerja tetap jika kita tidak punya waktu untuk keluarga 😘.

Dalam Industri kreatif, negara tidak akan menghabiskan sumber daya alam, justru sumber daya manusia jadi kekuatan utama. Maka dari itu makin happy 😆 manusianya makin sejahtera industrinya. Ini beberapa alasan serunya gaya hidup dunia pekerja lepas kreatif menurut kami:

Continue Reading

On Duty | Opini | street style | Uncategorized

Singapura ibarat kamar display Ikea

By on November 24, 2015

  
Kamis lalu akhirnya saya punya alasan untuk ke luar negri, mengisi paspor yang sudah dua tahun gak ada cap-nya. Saya sangat excited dapat kesempatan ke Singapura tidak hanya karena alasan berlibur tapi juga bekerja. Majalah gadis ngasih saya kesempatan untuk meliput festival musik Sundown Festival di Marina Promenade. Acara tahunan Singapura dalam rangka promosi band-band di Asia.
Saya makin girang karena yang jadi band penutup festival adalah band rapper Korea paporit saya Epik High. Wuhuuuu.

Ditulisan ini saya tidak membahas soal festival (yang mana Epik High selalu epic disetiap tampilannya) tapi saya mau beropini sebagai orang yang baru pertama kali ke Singapura.

Saya hanya punya kesempatan menikmati Singapura selama 4 hari 3 malam, itupun dengan agenda kerja (liputan festival musik) jadi saya tidak punya banyak waktu untuk eksplorasi Singapura. So it’s just my subjective opinion yah. Kalo gak setuju yaudah sih dibawa santai ajah. Hehehe.

World citizen
Sebelum berangkat ke Singapura, saya tidak banyak mencari tahu soal tempat wisata disana. Saya mengandalkan temen (rarambol) yang emang sudah sering pelesiran ke luar negri. Dan ini adalah 3 kalinya dia ke Singapura, jadi yaaa saya depend on her. Saya pengen tahu surprise apa yang dikasih buat saya.

  

Saat pertama kali sampai di bandara Changi, saya terkesima dengan begitu beragamnya jenis manusia. Orang bule, orang asia, orang india, dan banyak orang-orang lainnya. Kuping saya dibikin pusing mencerna beragam jenis bahasa yang keluar dari mulut mereka. Gak paham. Disini saya sadar bahwa ternyata saya adalah bagian dari masyarakat dunia. Selama ini saya cuma tahu Indonesia aja, itupun juga cuma sebagian kecil Indonesia. Saya terbiasa menjadi mayoritas di negara sendiri dan ketika melihat keberagaman di bandara Changi, saya tertegun menjadi kaum minoritas (meskipun banyak juga orang Indonesia disana). Melihat kondisi ini saya bertanya “Apakah saya sudah siap menjadi bagian masyarakat dunia?”.



Apalagi saat ini masyarakat Asean sedang menggalakkan SME. Gak lama lagi (bahkan memang sudah terjadi) warga Asean sangat mudah untuk mendapatkan akses antar negara di Asean baik itu bisnis, ekonomi, pendidikan, dan SDM. Persaingan tidak lagi hanya antara orang Indonesia saja, tapi saya juga akan bersaing dengan warga Asean. Mereka sangat mudah ke Indonesia, begitu juga sebaliknya. Bertanya lagi “Siapkah saya bersaing dengan mereka?”

Fasilitas
Semua yang ada di Singapura, tertata sangat rapih, pih pih. Kayaknya gak ada celah untuk komplain soal fasilitas disana. Jalanan, bangunan, transportasi publik, penunjuk jalan, tong sampah, semua tersusun sangat rapih. Semua seperti sangat dipikirkan matang. Kalo kata mba Wawa, Singapura itu layaknya kota di game Simcity, rapihhhhh bener. Semua dapat diakses dengan mudah, nyaman dan aman. Di Jakarta, pulang kantor jam 11 malam naik bis pasti agak horor yang (apalagi cewek) tapi disana biasa aja. Gak ada rasa khawatir bakal kecopetan atau digodain mas-mas pinggir jalan. Semua orang terlalu sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Bahkan pohon-pohon disana juga terdata, kapan harus dipotong kapan harus ditebang (kata bos saya). Itulah mengapa selama perjalanan pohon-pohon menjadi objek perhatian saya.
Gak usah khawatir nyasar disana, karena informasi mau kemana, naik apa semua dapat diakses dengan mudah. Saking mudahnya sampe saya ngeras kalo nanya jalan ke orang itu akan sangat memalukan. Ekspresi orang yang kita tanya seolah berkata “Hei, lo cari aja di internet atau baca peta. Semua udah jelas disana. Bodo banget sih!!.” Malu buat nanya orang.  
Tapi entah mengapa dengan segala kenyamanan dan keamanan yang ditawarkan Singapura, dia tidak memberikan rasa deg deg an di saya. Maksudnya gini, Singapura gak ngasih denyut di jantung ini (asek). Kehidupan disana gak pumping (meskipun semua orang jalannya cepet), gak bikin saya bergairah dan semangat (kecuali buat nonton konser yah). Saya mengibaratkan Singapura seperti kamar display Ikea. Iya bagus, rasanya pengen punya kamar yang kayak di Ikea dengan segala furniture nya.

Tapi ya gitu, saya tetep gak mau tidur atau tinggal di kamar display Ikea. Karena mereka cuma display, kaku dan tidak menunjukan kepribadian dari pemilik kamar (karena gak ada yang tinggal di display room Ikea juga).
Saya lebih suka tidur di kamar rumah, meskipun sempit, penuh barang dan berantakan, tapi kamar saya ngasih energi setiap saya bangun tidur. Ngasih harapan dan gairah untuk menjalani hari. Layaknya Jakarta.

Sedangkan Singapura meskipun cantik tapi gak ada nyawanya, plastik seperti manekin. Singapura memang cocok untuk pelesiran masyarakat urban sebagai weekend gateaway saja. Tapi untuk keseharian, saya tetap memilih Jakarta (kecuali ada tawaran kerja dengan gaji yang sesuai di Singapura, saya sih gak nolak, hehehe). Singapura ibarat (lagi) seperti hutan beton. Banyak gedung tinggi menjulang tapi gak ada orangnya. Orangnya dikit banget. Mending warga Jakarta sumbangin deh ke Singapura, biar lebih bergairah dan dinamis gitu hidup disana (hehehe).
Though saya tetep akan merencanakan balik lagi ke Singapura, mencari denyut nadi yang mungkin emang belum berasa aja, karena waktu kurang banyak. Yang pasti kalo kesana lagi, saya harus bawa perlengkapan jogging. Ngiri ngeliat bule-bule yang bisa lari jam 11 siang tanpa khawatir dengan polusi udara.

Continue Reading

On Duty | Opini

5 Hal Yang Disiapkan Sebelum Ke IFW

By on March 7, 2015

Indonesia Fashion Week 2015 baru aja kelar. Perhelatan fashion akbar yang rutin diadain di JCC ini tiap tahun selalu berhasil memancing crowd para pencinta fashion Indonesia, gak terkecuali saya. Sudah 3 tahun belakangan saya rajin datang ke IFW. Selain buat (hmmm) belanja, pagelaran fashion show adalah agenda wajib untuk ditonton. Saya takjub dengan banyaknya peserta exhibition IFW yang menjual beragam moslem wear.  Booth untuk peserta moslem wear menghabiskan 1 hall sendiri di area Cendrawasih Hall, bahkan saking banyaknya perserta, area Hall A dan B yang (saya kira) khusus busana pria dan wanita tetep ada loh yang jualan moslem wear.

Pesatnya perkembangan moslem wear keliatan selain dari booth juga dari tipe pengunjung yang datang. Cewek-cewek berhijab wara wiri sepanjang JCC dengan berbagai macam gaya. Hmmm perasaan saya antara seneng dan sedih (bingungkan?). Seneng karena makin banyak yang berhijab, tapi sedih karena mata tidak dimanjakan dengan berbagai macam gaya street style ciri khas acara fashion week. Atau mungkin ini karena saya ke IFW cuma sehari doang kali yah, jadi pendapatnya bisa jadi gak valid (hehehe). Oke setelah 3 kali rutin ke IFW, saya menyimpulkan ada 5 hal yang harus disiapkan biar acara weekend di IFW berjalan suksesssss.

photo 1

1. Bawa Duit Cash atau CC

Jikalau memang niat untuk belanja sebaiknya siapkan uang cash. Booth di exhibition fashion biasanya jarang yang bisa transaksi dengan debit. Dengan bawa cash paling tidak kita bisa kira-kira budget yang disedian untuk belanja. Tapi kalo emang pengeluaran melebihi budget, yang terpaksa mengeluarkan kartu sakti, CC. Hehehe

2. Style without Heels

Bayangkan betapa sakitnya keliling pemeran hall JCC yang lebarrrrrr itu kalo pake heels (hiiiiii serem). Jika kalian berencana untuk keliling pameran (bukan sekedar fashion show-an terus pulang) disarankan pake sepatu/ sandals yang flat ajah. Meski tanpa heels, masih bisa kok bergaya dengan alas kaki macam boots, platfrom, dll.

3. Cari tahu schedule

Banyak kegiatan di luar fashion show yang menarik dan bisa masuk tanpa menggunakan invitation. Acara talkshow di mini stage sekitaran JCC topiknya menarik dan diisi oleh pembicara yang mumpuni. Syaratnya cuma satu, tahu aja jadwal kegiatan sepanjang IFW. Pantau terus timeline twitter @indonesiaFW atau di website IFW untuk cari tahu schedule. Kalo gak sempet cek secara online, cari aja meja informasi di event dan minta schedule acaranya.

photo 24. Bawa gadget dengan kamera mumpuni

Kan jarang-jarang yah liat satu acara yang isinya stylist kabeh. Kalo saya sih gatel pengen moto sana sini dan moto wajib OOTD di belakang backdrop khas IFW (hehe). Gak perlu bawa kamera dslr yang berat ituh cukup pake kamera smartphone yang mumpuni, edit-edit pake snapseed, dan yes siap deh pamer IFW-an sosial media. Berasa fashion people banget ya kannn!!

5. Makan dulu sebelum ke IFW

Ini penting!! Tempat makan di acara pameran itu, kalo gak mahal yaaaa penuh. Jadi gak nyaman banget buat makan cantik. Masa iya udah cantik jelita dengan jumpsuit overshoulder, clucth bag, dan open toe heels ehhh makan siomay di abang-abang trotoar samping jCC. Mending makannya di piring, ini makannya kayak bocah pake plastik (hehehe). Kan jadi kurang sedap dipandang gitu yah. Jadi lebih baik amankan dulu perut sebelum datang ke JCC atau cari tempat makan yang nyaman di sekitaran senayan, setelah acara. Atauuuuuu kalo jamnya nanggung, mending bawa cemilan macam soyjoy yang gampang nyimpen dan belinya disaat keadaan perut darurat (hehehe).

Continue Reading