Life note | Opini

4 hal yang membekas di hati, Juni 2016.

By on July 3, 2016

This slideshow requires JavaScript.

Bulan Juni gak terasa sudah berganti ke Juli. Waktu 30 hari rasanya kok singkat banget apalagi Juni tahun ini berbarengan dengan bulan Ramadhan. Gak cuma Ramadhan di bulan Juni juga bertepatan dengan ulang tahun ibu kota Jakarta. Jadi sudah sewajarnya kalo bulan Juni rasanya sangat seperti perayaan festival (untuk saya), ramai, riuh dan menyenangkan.

Selain itu secara personal ada beberapa pengalaman yang harus saya jadikan pelajaran, khususnya terkait dengan pekerjaan. Maklumlah ini tahun pertama saya berstatus sebagai freelance. Menghadaapi bulan Ramadhan sebagai freelance, ternyata penuh dengan adrenalin.

1. Sale dimana-mana

Buat yang ingin memaksimalkan pengeluaran shopping, sebaiknya tahan hasrat untuk sampai di bulan Ramadhan dan Ulang tahun Jakarta. Sunggu sepanjang saya survey ke mall alias cuci mata di bulan ini, kata Sale gak lepas dari pandangan mata. Sale mulai dari 20% bahkan 80% malah ada lagi yang ditambahin lagi sale-nya. Udah sale di sale-in lagi. Ini gak cuma berlaku belanja di mall tapi juga belanja online. Semua brand seperti berlomba memberikan sale untuk memancing pembeli di bulan festival Juni. Apalagi dalam rangka ulang tahun jakarta, pememkot melaksanakan juga Jakarta Great Sale di hampir seluruh mall Jakarta dan juga Pekan Raya Jakarta.

Tapi harus tahu juga mana produk yang beneran sale atau memang harganya sudah di mark up. Biasanya saya suka scanning harga di beberapa toko favorit di bulan-bulan biasa. Jadi saya tahu harga normal produk itu dan pada saat bulan Sale saya akan ngecek balik, apakah barang itu beneran di sale atau sekedar mark up dari harga normal. Meskipun banyak kata sale tetap harus jadi pembeli yang cerdas yah. So sebaiknya tahan-tahan deh hasrat belanja sampai bulan Juni.

2. Banyak info lomba

Masih berkaitan juga dengan Bulan Ramadhan dan Ulang Tahun Jakarta selain banyak sale banyak juga lomba-lomba yang diselenggarin sama brand dan juga mall. Baik itu lomba nulis, lomba #ootd instagram, lomba foto, lomba quote dan jenis lainnya. Biasanya info lomba itu bisa didapat online lewat social media. Dengan info lomba di social media jangkauan informasi lebih luas untuk si penyelenggara. Hadiahnya pun lumayan banget, mulai dari voucher belanja, coupon travel, produk, uang tunai bahkan travelling ke luar negeri.

Seperti yang saya alami di Juni kemarin. Berhubung saya tipe yang doyan lomba dan hadiah, saya ikutan lomba Run Hijab Style Senayan city X Debenhams Indonesia bersama Yulia dan Rima. syukurnya dapet Juara 1 dong (hehehe). Hadiahnya lumayan loh, voucher belanja 1,5 juta (dibagi 3 yah) kan lumayan duit buat beli baju lebaran jadi masih ada lebihan (hehe).

3. Macet Jakarta berlebihan di minggu kedua dan ketiga

Jakarta macet emang hal yang biasa yah, cuma kalo macetnya gak kenal waktu itu hal yang tidak biasa setidaknya buat saya. Biasanya macet Jakarta kan bisa ditebak waktunya, nah bulan Juni kemarin prediksi macet berdasarkan waktu jadi gak berlaku. Apalagi di minggu kedua dan ketiga. Bisa jadi ini karena budaya “Buka Puasa Bersama” kaum urban Jakarta. Kita harus pinter memprediksi kondisi jalan dan milih moda transportasi yang cepet kalo gak mau berakar di jalanan (hehehe).

Transportasi online motor masih jadi pilihan untuk saya menghadapi Jakarta. Alasannya gak lain karena murah dan cepat. Kalo kamu pilih kendaraan apa?

4. Siapin dana cadangan

Yes, ini penting buat saya yang bekerja dari rumah alias gak punya bos dan kantor. Saat saya masih ngantor sering denger cerita dari temen yang freelance kalo saat bulan puasa biasanya sepi kerjaan. Yang artinya sepi pemasukan juga. Tadinya saya kurang ngerasa’ne maksudnya gimana. Tapi setelah ngalamin sendiri saya ngerti juga (haha).

Sebagai pekerja yang berharap orderan dari klien, saya harus pinter mengatur pemasukan. Selama bulan puasa, jarang banget ada order kerjaan. Mungkin bisa jadi karena produksi promosi/ advertising klien di bulan ini rada woles (setidaknya yang saya rasakan). Mereka biasanya sudah nyipain materi promo sebelumnya untuk ditayangkan saat bulan Ramadhan.

Karena menganut prinsip “Rejeki ada yang ngatur” & “Tenang nanti ada kerjaan lagi” saya jadi kurang berhati-hati mengatur keuangan bulan Juni (hahaha). Pengeluaran untuk gaya hidup tidak diimbangin dengan pemasukan kerjaan. Walhasil saya jadi deg-degan di minggu keempat apalagi mau lebaran ye kan, kok ya gak ada modal (hahaha).

Yes inilah pelajaran bulan Juni saya. Selamat datang Juli, please be nice.

 

Continue Reading

Life note | Opini

Siapin 5 hal ini sebelum resign!

By on May 20, 2016

Melanjutkan post Resign? Enggak? 4 rasa khawatir sebelum resign ditulisan ini saya ingin berbagi apa saja yang saya siapkan sebelum resign. Saya anaknya tipe yang well prepared, apapun harus saya persiapkan untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi. Mungkin bawaan karena kebiasaan kerja, dulu mah Iwed anaknya gak gituh (hehehe).

Selama 1 tahun itu saya nyiapin segala hal yang saya butuhkan untuk menjadi seorang freelance. Saya memutuskan untuk tidak bekerja terikat sebagai karyawan lagi di perusahaan dengan berbagai pertimbangan. Berstatus freelance rasanya pilihan yang tepat untuk saya (dipost berikutnya saya akan share Kenapa saya memilih freelance). Tapi sebelum menjadi seorang freelance ini beberapa hal yang harus saya persiapkan untuk menghadapi persaingan kedepan.

1. Rencana setelah resign

Rencanakan hidupmu setelah resign. Selesai masalah dikantor lama maka akan muncul masalah berikutnya “Mau ngapain abis resign?”. Saya pribadi memutuskan untuk bekerja sebagai seorang freelance karena saya ingin belajar dunia diluar kantor saya terdahulu. Kedepannya saya berpikir untuk sekolah lagi (mohon doanya). Apapun itu sebaiknya memang kita punya rencana setelah resign, mau kerja di perusahaan lain, mau dagang, mau lanjut sekolah, mau menikah, mau freelance dan lain sebagainya. Rencana-rencana ini yang menentukan persiapan seperti apa yang kamu butuhkan sebelum resign.

Baiknya rencana ini memang masih ada hubungannya dengan apa yang kamu kerjakan sekarang. Itupun kalo memang kamu masih berminat dengan pekerjaan yang kamu jalani. Kalopun enggak ada hubungannya juga gak papa (hehe).

2. Networking

Seberapa banyak saya mengenal orang dan seberapa banyak saya dikenal orang itu adalah networking (menurut saya). Berhubung saya bekerja di industri (katanya) kreatif mau tidak mau networking adalah hal penting. Selama 1 tahun kebelakang hari-hari saya habiskan untuk menjalin networking. Networking ini gak melulu urusan kerja, tapi teman teman lama dari masa sekolah saya hubungi kembali entah di sosial media atau personal  via whaspp. Saya sadar kalo 4 tahun masa bekerja, saya jarang bahkan cenderung tidak pernah kontak dengan mereka. Ini beberapa hal yang saya lakukan untuk networking:

  • Menghubungi teman masa sekolah
  • Aktif lagi di sosial media – facebook, linkedin, tinder (yes tinder!)
  • Aktif di beberapa komunitas yang saya suka

bfb2f711712558dada3332461d49ec18Yang terpenting dari networking menurut saya adalah be honest. Saya menghubungi teman-teman lama bukan hanya sekedar basa-basi menanyakan kabar kemudian udah gituh ajah. Biasanya berawal dari halo-halo di whaspp kami akan lanjutkan obrolan dengan ketemuan. Mungkin saja setelah bertemu ada suatu hal yang bisa kami kolaborasikan bareng. Saya tipe orang yang lebih senang bertatap muka dan ngobrol panjang dari pada capek ngetik atau kuping panas karena telponan lama.

Aktif di Tinder mungkin buat kalian agak random sih (hehehe). Saya ngaku kalo saya cukup aktif menggunakan tinder malah ada teman yang bilang saya ini aktifis tinder (hehehe). Tinder salah satu apps yang cocok untuk saya menambah teman. Niat saya make tinder memang untuk menambah teman, kalo ternyata berlanjut menjadi pacar saya anggap itu bonus (haha). Di tinder saya menemukan beberapa kenalan (yang akhirnya menjadi teman) dengan minat sama atau bahkan ternyata bekerja di industri yang sama. Saya sih percaya jika niat kamu baik maka kamu akan bertemu orang-orang baik.

Soal aktif dikomunitas ini juga cara saya untuk networking. Saat ini saya aktif di Hijab Speak dan Cewequat dari situ ternyata membuka jalan saya untuk kenal dengan perempuan perempuan kece nan keren seperti Fikhanza, Ollie Salsabila, Bunga Mega, dll. Kenapa saya bilang kece nan keren? karena di usia muda mereka sudah bergerak membuat perubahan yang baik tidak hanya sekedar komplain. Bergabung di komunitas ini juga salah satu cara saya keluar dari inner circle yang itu-itu aja. Saya jadi mengerti ada banyak hal menarik diluar pekerjaan. Dan bersyukurnya apa yang saya pelajari di dunia kerja ternyata bisa ngasih kontribusi juga di dalam komunitas ini.

3. Skill/ Kemampuan

Berhubung saya ingin menjadi seorang freelance, maka saya harus punya kemampuan lebih dibandingkan freelance-freelance lainnya. Saya paham persaingan diluar sana ketat tapi saya percaya kalo rejeki gak ketuker asal kita tetap berusaha. Selama setahun kebelakang saya mulai berpikir tentang “Saya ingin dikenal orang sebagai apa?” dan ini berkaitan dengan kemampuan yang akan kembangin. Selama bekerja diperusahaan saya memang mengerjakan banyak hal dari situ saya memilah-milah mana yang jadi minat saya. Akhirnya menulis saya pilih menjadi minat saya, dan memproduksi video menjadi kemampuan saya berikutnya. Beberapa hal yang saya lakukan untuk nambah skill:

  • Update artikel perkembangan industri kreatif
  • Menjadi kontributor di Rula.co.id
  • Berlatih english writing

a7644a884f450292236a98dd963b460aTahu akan kemampuan yang kita miliki jadi hal penting untuk seorang freelance. Jangan sampai kita jual diri ke orang lain tapi gak tahu jualan apa. Yang ada orang akan bingung menawarkan pekerjaan apa yang cocok untuk kita. Pun jika kita memutuskan untuk berdagang atau memulai usaha sendiri, kita harus punya kemampuan dan misi yang niche tentang produk kita nantinya. Pastikan kita riset dulu dan fokus akan kemampuan yang akan kita jual nantinya setelah resign.

4. Duit cadangan

Ini lumayan bikin puyeng sih. Setahun pertama saya masih gak begitu peduli, soal tabungan sebelum resign. Duit gajian abis buat jajan dan jalan. Tiga bulan mendekati jadwal resign saya baru panik. Hahaha. Mohon ini jangan ditiru. Toh akhirnya saya beneran resign tanpa ada duit cadangan, sumpah saya mah nekat. Saya percaya rejeki gak akan lari kemana #iwedngeles. Tapi sebaiknya memang rencanakan keuangan jauh jauh hari sebelumnya jika kita memang berniat resign. Uang cadangan ini berguna untuk biaya hidup kita selama belum ada pekerjaan atau pemasukan baru. Bisa juga berguna untuk modal buka usaha. Yang bisa kita siapkan untuk duit cadangan:

  • Ikutan arisan
  • Buka tabungan berjangka
  • Jangan kebanyakan belanja gak penting

5. Pasrah ajah

Urusan resign atau enggak buat saya sama kayak urusan siap nikah atau enggak. Keputusannya harus ‘ajeg’, orang lain cuma bisa kasih masukan tapi yang memutuskan adalah kita sendiri. Jika memang kita sudah yakin ‘saat ini’ untuk resign, persiapan yang udah saya sebutin ini gak akan kamu pusingin. Kamu udah yakin bahwa resign adalah keputusan yang baik selanjutnya kamu percaya dan pasrah  aja sama yang Punya Rezeki. Saya yakin jika kita sudah berusaha dengan baik pasti akan ada hasil yang baik didepan. Gak perlu lagi kamu puyeng dan panik karena belum tahu mau merencanakan apa setelah resign. Keluar aja dulu dari satu pintu maka pintu pintu yang lain akan terbuka. Jangan lupa juga untuk memperbanyak sedekah dan ibadah. Insya Allah semua ada berkahnya.

af5d00daf4a4468d49dc7e743a7bf1b6Itu 5 hal yang bisa saya bagi pengalaman sebelum resign kemarin. Ini gak berlaku pasti loh yah tergantung keadaan kamu aja. Syukurnya setelah menjadi seorang freelance saya lebih HAPPY. Banyak hal yang menyenangkan saya dapat setelah saya memutuskan freelance. Sering kali kita suka lupa akan hal yang bikin happy. Karena tuntutan financial akhirnya kita mau gak mau kerja ditempat yang bikin kita gak happy padahal itu gak asik sih. Kerjain aja apa yang bikin kita seneng, dan Insya Allah rejeki pasti ngikutin.

Temen-temen yang punya pengalaman persiapan sebelum resign, monggo loh di bagi-bagi disini. Saya akan sangat senang sekali mendengar pengalaman kalian dan bisa jadi masukan buat yang sedang galau (hehe)

 

Continue Reading

Life note | Opini

Resign? Enggak? 4 perasaan khawatir sebelum resign.

By on May 9, 2016

Awal tahun 2016 ini jadi saat yang berkesan untuk saya, khususnya di bulan Maret. Selain saya bertambah usia (uhuk) di bulan ini, di sini saya juga menyandang status baru. Bukan, bukan sebagai bini orang (hehehe) tapi sebagai seorang freelance. Lima tahun sudah saya kerja di Samsara Pictures dan selama itu juga saya dikenal sebagai Dewi Samsara (red: Dewi yang kerja di Samsara). Memutuskan menjadi freelance bukan perkara gampang buat saya. Apalagi Samsara ini adalah kantor pertama kali tempat saya bekerja seusai lulus kuliah. Ilmu di kuliah sama kerjaan sama sekali gak ada nyambungnya babar-blas. Cukup banyak drama yang terjadi antara saya dan saya untuk memutuskan resgin (hehehe).

Di tulisan ini saya pengen sharing tentang perasaan pribadi menuju detik-detik resign. Mungkin aja kamu juga lagi mengalami masa yang sama.  Masa dimana bingung memutuskan resign? enggak? resign? enggak? (mbari ngitung kancing baju).  Sini sini saya temenin biar kamu gak sendirian (hehehe).

  1. Khawatir gak ada penghasilan setiap bulan

Salah satu kenyaman menjadi karyawan adalah tiap bulan saya dapet pemasukan yang pasti dari gajian. Duit gajian ini biasanya saya pake buat kebutuhan sehari-hari, tunjangan gaya hidup, dan syukur-syukur ada lebih buat tabungan (hahaha). Sebagai orang yang lulus kuliah langsung kerja, saya belum pernah tahu rasanya “Gak punya penghasilan bulanan”. Selama lima tahun saya terbiasa menjadi orang yang nungguin tanggal 28 datang tiap bulannya.  Dan pikiran “Gak punya gaji tiap bulan” sebagai seorang freelance sangatlah bikin saya panik.

Nanti urusan makan-makan di mall gimana?

Nanti kalo gue mau belanja gimana?

Nanti bayar tagihan kartu kredit gue gimana?

Dan masih panjang deretan “Nanti gimana lainnya?”. Apalagi saya tipikal yang susah nabung (hahaha keplak kepala sendiri). Sebelum memutuskan resign saya banyak baca artikel soal Perencanaan keuangan sebagai seorang freelance dan kebanyakan disitu tertulis Siapkan dana cadangan sebesar 12 bulan gaji anda saat ini. Yawlohhhh gimana saya punya dana cadangan kalo tiap bulan gajian abis buat bayar tagihan kartu kredit. Nah loh perasan kayak gini nih yang bikin jiper buat resign.

2. Khawatir gak ada yang ngasih kerjaan

Kerjaan yang dimaksud disini kerjaan yang dibayar yah. Kalo urusan kerjaan yang gak dibayar mah banyak (hehehe). Setelah resgin hidup gak berhenti kan yah, masih ada cicilan yang harus dibayar, masih ada teman-teman yang ngajak reunian, dan masih banyak daftar barang yang pengen saya beli. Saya tetep perlu kerja yang berpenghasilan untuk menunjang semua itu. Nasib perempuan single, harus bisa nyari penghasilan sendiri tanpa bergantung sama suami (suami yang mana coba).

Pikiran soal “Nanti saya dapat kerjaan dari mana?” sangatlah mengganggu. Selama jadi karyawan, pekerjaan selalu saya dapatkan dari produser di kantor. Kelar kerjaan satu, dikasih lagi tanggung jawab ini. Belum kelar tanggung jawab ini, dapet lagi kerjaan itu, begitu seterusnya. Dan pekerjaan-pekerjaan itu yang membuat saya produktif dan merasa ada artinya di kantor. Ilmu, pengalaman dan pengetahuan saya bertambah seiring dengan bertambahnya tanggung jawab di kantor. Pertanyaan dibawah ini bikin saya lagi-lagi jiper untuk resign….

Terus kalo resign yang ngasih gue kerjaan siapa?

3. Khawatir dengan kemampuan sendiri

Meskipun sudah bekerja selama 5 tahun di Samsara dan sedikit banyak mengerti soal produksi video, saya masih gak pede dengan kemampuan saya. Saya gak yakin setelah saya resign apakah ada yang akan ngasih kerjaan karena kemampuan yang saya miliki karena saya sendiri gak tahu kemampuan saya apaan (hahaha). Jika ditanya profesi saya apa, saya akan jawab “hmmmmm nulis iya, producer iya, wadrobe juga iya”. Jika orang yang bekerja menyembuhkan orang sakit disebut dokter, dan orang yang bikin baju disebut fashion designer atau tukang jait.

Terus kerjaan saya yang bikin konsep cerita, nulis skrip, bikin budget produksi, calling crew, ngurusin wadrobe, dan perintilan syuting lainnya disebutnya apa??

Tuhkan nambah pertanyaan  lagi  yang bikin saya jiper.

4. Khawatir ngomong sama orang tua

Secara saya masih hidup menumpang dengan orang tua jadi kondisi ini harus diadepin. Saya ngerjain apa, kedua orang tua saya sebenernya juga masih bingung. Berkali-kali saya coba jelasin, tapi berkali-kali juga mereka menganggap saya bekerja di stasiun TV. Cara paling mudah ngasih tahu mereka saya kerja apa, saya bilang aja “Itu loh ma, aku bikin-bikin iklan yang nyelip di sinetron kesukaan mama.” Dan jawaban mama adalah “Ya kok bikin iklan sih kak, siapa yang nonton.” Yup begitulah, siapa coba orang yang demen nontonin iklan selain mereka yang bekerja di industri itu. Saat saya bilang “Ma aku mau resign” mama selalu balikin lagi pertanyaannya

Emang kamu udah ada tempat kerja baru? terus kalo kamu resign mau kerja dimana?”

Hmmmm saya bingung jawabannya.

574e4621f4d5eacae89f675cce37f266

Kekhawatiran diatas menghantui saya kurang lebih selama setahun dan makin horor menjelang 3 bulan sebelum resign. Makin ditanyain saya makin bingung jawabnya. Tapi syukurnya masa-masa itu udah lewat. Di posting-an setelah ini saya akan share gimana cara saya menghadapi kekhawatiran ini.

 

Continue Reading

Life note | Opini

Ketika Hidup Banyak Syarat

By on May 5, 2016

“Gue bakal daftar beasiswa itu, kalo gue udah resign dari kerjaan.”

“Tenang aja gue pasti bakal nyelesain buku itu kok, kalo udah gak sibuk.”

Sering gak sih denger kalimat diatas? keduanya punya template yang sama kayak gini, Saya akan + Kalo = Harapan yang gak kejadian. Gak ada yang salah dengan formula ini, tapi rasanya akan salah apabila kata “kalo” itu gak segera kejadian, yang artinya kalimat yang pertama pun juga agak akan kejadian. Kalimat setelah kata “kalo” adalah kondisi ideal yang kita harapkan akan terjadi. Setelah kondisi ini tercapai barulah kondisi di kalimat pertama akan mungkin terjadi. Tapi pada kenyataannya, pun jika kondisi di kalimat kedua sudah terjadi belum tentu juga kalimat pertama akan dikerjakan. Iya kan?!

Sering kali kita menaruh syarat terhadap apa yang pengen kita lakukan dengan menunggu sampai kondisinya ideal. Misalnya seperti ini, “gue akan mulai lari pagi kalo gue punya sport gear yang keren.” Punya sport gear yang keren adaah syarat yang kita buat sendiri untuk rencana-rencana hidup kita. Tapi kejadiannya di lapangan meskipun kita udah punya sepatu running terbaru, belum tentu juga kita bakal rajin lari pagi. Yah mungkin diawal-awal semangatnya membara, tapi lewat sebulan…hmmm lupa sama janji lari pagi.

Ini sebenarnya yang sedang saya alami. Sekedar kalian tahu saja, setelah drama yang berkepanjangan akhirnya bulan Maret lalu saya resmi resign  dari kantor pertama saya. Sebelum saya memutuskan resign, banyak sekali rencana-rencana yang ingin saya lakukan “nanti jika saya sudah berstatus sebagai freelance”. Diantaranya; pengen punya clothing line, pengen rajin nge-blog, pengen ngembangin komunitas ABC, pengen bisa nyetir mobil, pengen jalan-jalan, pengen mahir main gitar, pengen mahir english, dan masih banyak rentetan pengen lainnya. Tadinya semua kepengenan itu terasa jelas di kepala. Saya bagaikan orang yang sangat produktif karena tetap membuat target-target yang realistis dijalani jika sudah menjadi seorang freelance.

Tapi pada kenyataannya, setelah hampir 3 bulan saya berstatus freelance, belum ada kepengenan itu satu pun yang terjadi (hahaha). Pengen rasanya nempeleng kepala sendiri dan bilang “bego lo” – pake gaya bahasa tetris-. Yes saya menyadari kalo saya menjalani hidup ini dengan terlalu banyak syarat. Syarat yang mempersulit saya sendiri hingga akhirnya malah jalan ditempat. Misalnya saja begini, “gue akan mulai nulis blog kalo gue punya koneksi internet di rumah yang kenceng dan juga working space yang kayak di pinterest gituh.”  Kenyataannya preett. Nungguin rumah saya dapet koneksi internet nirkabel sama seperti nungguin adek saya mandi, lamaaaaaaaa. Udah nelpon CS internet provider dari sebulan yang lalu, sampe sekarang gak ada tanggapan sama sekali. Terus nungguin saya punya working space ala-ala pinterest gitu sama aja ngablu-nya. Bukan gak mungkin sih tapi it takes very long time aja biar itu terwujud apalagi dengan kondisi kamar yang sepetak dan barang yang bejubel, preett kok ya sama pesimis.

 

e4435cabf7f6c5fc6623de7d2571f31c

Akhirnya saya berpikir realistis, jika kedua syarat itu gak terjadi maka ujung-ujungnya saya gak bakal nulis-nulis blog. Saya menyadari bahwa intinya kan bukan koneksi internet dan working space-nya tapi nulis blog nya itu yang jadi target saya. Setelah berbulan-bulan akhirnya saya sadar juga untuk menghilangkan syarat-syarat itu (hehehe), dan yeayyy muncullah tulisan ini (kok ya lama banget Wed sadarnya). Hanya berbekal koneksi internet dari hp dengan posisi ngelonjor di kamar yang sepetak, kemudian mejik saya pun bisa menulis (hahaha). Saya baru berhasil mengerjakan satu dari rencana kepengenan bersyarat yang lain. Semoga saja saya konsisten, hehehe.

Intinya dari tulisan ini, sering kali kita terlalu banyak memberikan syarat terhadap hal yang kita senangi. Sampai akhirnya kita terlalu fokus untuk mewujudkan syarat tersebut dan lupa akan hal yang bikin kita happy. Kalo udah kayak gitu sebaiknya kita step back dulu dan tanya lagi reason kenapa kita kepengen mengerjakan hal itu. Jika kita honest, dengan sendirinya hidup gak perlu syarat untuk dijalani. Ketika hidup kebanyakan syarat, yang ada kita jalan ditempat.

Continue Reading

Opini

MY FEARS AND GOALS

By on November 27, 2015

My fears is me, myself and I.

Setiap orang pasti punya ketakutan dan kekhawatiran dalam diri sendiri. Dan untuk saya, ketakutan terbesar saya adalah menghadapi diri saya sendiri. Kenapa? Karena saya merasa memiliki dua kepribadian yang saling bertolak belakang. Kalo saya baca di internet isitilahnya Bipolar, tapi rasanya terlalu berlebihan jika saya menyebut diri sendiri bipolar syndrom.

Seperti halnya Yin-Yang, hitam-putih, baik-buruk, suka-duka begitu juga dengan kepribadian saya. Eits ini bukan berarti saya bermuka dua yah, yang ngomong di depan dan belakang beda. Tapi ini lebih kepada sikap saya dalam menanggapi suatu hal selalu dilihat dari dua sisi saya. Jadi gini saya memiliki dua karakter, Dewi dan Iwed. Saya mencoba menyederhanakan pemikiran saya mengenai mereka.

dewivsiwed

Dewi

Penurut dan taat peraturan. Tidak berani ambil resiko, cari aman. Introvert, kaku, plegmatis. Bijak, dewasa. Perencana jangka panjang. Saving. Warna: Hitam

Iwed

Spontanious – dreamer. Rebel, Suka hura-hura. Gak memikirkan resiko. Pemikir jangka pendek. Ekstrovert, sanguin. Gampang bosan. Spending. Warna: Kuning

Karena dua karakter yang kontradiktif ini saya jadi sering pusing sendiri. Berdebat sambil bicara dengan diri sendiri menjadi kebiasaan sehari-hari yang seringkali bikin orang disekitar saya bingung sama tingkah saya. Dewi sering banget nyalahin Iwed karena keteledoran dan pilihan spontan yang berujung salah. Gitu juga dengan Iwed, sering ngompor-ngomporin Dewi yang bukan seorang risk taker. Iwed seorang pemimpi dengan segala imajinasi. Sedangkan Dewi merasa hidupnya saat ini sudah sangat nyaman dan tercukupi. Saat menulis ini pun saya juga bingung mau ambil sudut pandang dari mana. Dewi yang ngomongin Iwed atau seorang Iwed yang ngomongin Dewi. Arggghhhh.

Dengan dua karakter ini, jadi tantangan buat saya untuk saling mendamaikan mencari jalan tengah. Jika saya terus berkutat dengan perbedaan keduanya, maka gak akan pernah ketemu titik tengahnya. Berakibat saya keseringan jalan ditempat dan selalu merasa puas dengan impian yang hanya ada diangan-angan. Just dreaming not action. Please don’t do that Dewi & Iwed!!! (lah ini yang nulis siapa? – hahaha auahhh)

My Goals

Beberapa minggu lalu di pagi hari yang cerah ceria, saya di whatsapp sama kak Bunga yang ngasih pertanyaan sulit. Pertanyaannya lebih sulit dari game Duel Otak “Wed 2 hal yang mau kamu kerjain terus sampai mati apa?”. Saya cuma bisa jawab “Kak masih pagi, kok udah ngasih pertanyaan susah bener. Belum tahu kak.”

Yes ternyata diusia yang (tidak lagi) muda ini, saya masih bingung soal apa yang mau saya lakukan di hidup ini. Bukannya menjawab pertanyaan, obrolan di whatspp malah berlanjut dengan saya curhat perihal passion hidup. Kak Bunga ngasih beberapa insight supaya saya tahu apa yang sebenarnya mau saya kerjaan.

Pertanyaan kak Bunga pun saya lempar ke temen-temen lewat status FB. Saya mendapatkan jawaban yang sangat beragam. Paling tidak beberapa temen-temen saya di FB sudah tahu apa yang mau mereka kerjakan dalam hidup ini sampai mati. Mereka sudah tahu apa hal yang menjadi semangat dan gairah mereka setiap bangun pagi. Sedangkan saya entahlah?!

To be honest diparagaf ini saya belum bisa memutuskan apa yang akan menjadi goal saya. Jika saya jawab soal uang, kekuasaan dan kesenangan itu sudah pasti bukan menjadi tujuan hidup saya. Ya siapa sih yang gak mau tiap bulan liburan ketempat-tempat eksotik atau belanja barang-barang fancy tanpa harus mikirin “bayar cicilan gimana?”, saya ingin hidup itu, tapi ya gitu hanya sekedar ingin. Saya tidak mau menjadi bagian orang yang bekerja keras selama 6 bulan. Meski mengeluh dengan beratnya pekerjaan namun tetap dikerjakan karena kebutuhan untuk mengumpulkan uang. Kemudian uang dihambur-hamburkan untuk liburan keluar negri terus pameran foto deh di media sosial hanya untuk bikin warga dunia maya iri. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi tidak, itu bukan saya.

Saya ingin memiliki hidup yang berarti dan bermanfaat. Meskipun bukan untuk orang banyak, setidak untuk saya dulu saja. Saya ingin terus menciptakan karya yang memiliki makna untuk saya sendiri dan syukur-syukur untuk orang lain. Karya seperti apa? Karya apa saja yang bisa saya buat. Saya tidak mau membatasi diri akan kemampuan yang saya miliki.

Saya ingin banyak berbagi kepada orang disekitar saya. Jika saya tidak bisa berbagi uang, saya bisa berbagi tenaga. Jika saya tidak bisa berbagi tenaga, saya akan berbagi ilmu, pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki. Intinya saya ingin berbagi. Karena dengan berbagi, saya merasa ada gunanya hidup di bumi ini. Saya tidak mau mengecewakan Sang Pencipta, membuat dia menyesal telah menciptakan saya di dunia ini hanya untuk menuh-menuhin galaksi aja (hehehe).

Di akhir tulisan ini jika saya ditanya lagi “Wed 2 hal yang mau kamu kerjain terus sampai mati apa?” maka saya bisa menjawab dengan tegas..

SAYA INGIN TERUS BERKARYA & BERBAGI SAMPAI MATI.

goals

 

 

 

Continue Reading