Life note | Opini

Cerita setengah abad seorang ayah

October 29, 2017

Ungkapan “You will always be daddy little girls” ternyata benar adanya. Seberapa pun dewasanya kita, tapi di mata seorang ayah kita akan tetap jadi anak kecil yang harus selalu dia jaga. Jadi begini ceritanya, tanggal 27 November lalu, ayah saya genap berusia 54 tahun dan untuk pertama kalinya saya dan ade inisiatip membuat sebuah perayaan kecil karena ajakan dari mama 😊 (biasanya udah gitu ajah gak ada apa-apan).

 

Kata mama “Ayah kayaknya lagi kepengen banget punya smartphone kak. Bisa gak kamu patungan sama dimas (ade) beliin buat kado ayah.” Dari situlah awalnya perayaan kecil ini. Ayah orang yang sangat sederhana, sudah berpuluh tahun dia menggunakan hp monoponic. Semenjak kena PHK ditahun 98, gaya hidup ayah dan keluarga jauh berubah. Masih inget banget, jaman hp segede batu bata dengan harga jutaan (gak tahu merek apa), ayah yang seorang manager udah punya duluan. Dan semenjak krismon semua berubah 🤕.

Masa lalu emang seru buat dikenang, tapi tidak untuk diulang 😂. Akhirnya baru kemaren lagi ayah punya keinginan untuk ngikuti perkembangan teknologi. Setelah nyaman aja dengan hp kecilnya karena sebagai seorang pengusaha antar jemput anak sekolah (alias supir) gawai itu sangatlah cukup (menurut ayah). Yang penting bisa dipakai telpon atau sms itu sudah lebih dari cukup.

Perayaannya sederhana tapi bermakna, kami makan sekeluarga di Talaga Sampireun Bintaro. Asal tahu aja, kayaknya baru kemaren lagi kami makan sekeluarga dengan formasi lengkap (bahkan plus menantu dan calon cucu) karena biasanya ayah susah banget kalo diajakin makan keluar. Kenapa?

Ya karena alasan diatas, ayah selalu menganggap anaknya yang sudah dewasa tetaplah seorang anak. Dia merasa gak enak jika harus merepotkan dan menghabiskan uang hasil kerja anaknya hanya untuk makan diluar itu penjelasan ayah setelah doa bersama dan tiup lilin.

Ayah bukanlah pribadi yang gampang curhat keanaknya, dia selalu berusaha terlihat kuat menjadi pahlawan dimata keluarga. Tapi malam itu saya melihat sosok lain seorang ayah. Bahwa dia hanyalah seorang manusia biasa yang punya kelemahan serta kekhawatiran hidup. Sepanjang malam itu akhirnya saya serta ade-ade banyak mendengarkan kisah perjalanan seorang ayah. Saya baru sadar bahwa selama ini kami sangat jarang berbincang dan mendengarkan satu sama lain 😅.

Mungkin karena bawaan akan menjadi orangtua. Maka diusia ini saya baru memahami betapa pentingnya keberadaan orangtua untuk anaknya. Saya sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk tertawa bersama mereka.

Setelah makan bersama, saya menyerahkan kotak berisi gawai yang dia inginkan. Dari tatapan matanya, saya melihat rasa syukur, bukan karena gawai yang saya berikan, tapi karena berkah hidup yang dia dapatkan diusia 54 tahun ini yaitu keluarga yang sehat dan bahagia. Sepanjang malam itu, ayah diajarkan cara make smartphone oleh ade saya. Ada selentingan yang diucapkan “Yah kalo begini makin diem dieman deh di rumah, sibuk dengan hp masing-masing.” Saya cuma bisa tertawa dan bilang “Jangan sampe hp menjauhkan yang dekat. Harusnya yang dekat malah semakin dekat.” 🤓

Dari cerita jumat malam itu, saya juga belajar tentang pentingnya investasi. Beberapa kali ayah cerita tentang harga tanah yang masih puluhan ribu semeter saat lewat daerah Ciledug menuju Bintaro. Ayah cukup menyesal karena tidak menyisihkan penghasilan ditahun 90an saat ada yang nawarin harga tanah 50ribu/meter dan bisa dibayar cicil 😅.

Makasih ayah buat cerita pengalamannya. Gak perlu disesalin, karena setiap manusia sudah dicukupkan rejekinya masing-masing. Love you ayah 💖.

Tulisan ini dibuat untuk program nulis kolaborasi dari grup Anggun C KEB dengan trigger post dari Mak Nova https://emak2blogger.com/2017/10/24/anak-berkata-kasar-harus-bagaimana/ 💖

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *