Life note | Opini

Buat kamu yang berusia 20-an, sebaiknya baca ini yah..

By on July 24, 2016

sebelum 30 - 1 (1)

Melalui tulisan ini saya ingin berbagi kepada para pembaca blog Fee. Taste. Style khususnya perempuan yang lagi seru-serunya menikmati masa penuh kejutan di usia 20-an. Beberapa bulan lagi usia saya menanjak ke angka 30 (ehmmmm berumur banget yah). Fase usia dewasa yang katanya mulai serius mikirin hidup #tsaelah. Mungkin ada benernya juga kata orang-orang itu, karena di titik ini saya menanyakan “Udah ngapain aja sih wed selama ini?”. Dari pertanyaan itu, saya ketemu jawaban yang malah bikin saya nyinyir begini…

“Yaelah coba gue tahu ini lebih awal.”

Makanya dari itu pengen banget saya berbagi pengalaman ke kalian yang lagi happy-happy-nya. Siapa tahu lewat tulisan ini kamu jadi lebih mengerti apa yang sebaiknya kamu lakukan.

Continue Reading

Life note | Opini

Jadi karyawan atau freelance? Baca dulu pengalaman ini agar siap menghadapi resikonya.

By on July 12, 2016

 

Processed with VSCOcam with a6 preset
It’s just a phase, smiling. 

 

Saya sedikit ingin bercerita latar belakang pengalaman untuk tulisan ini. Minggu lalu saya belajar hal baru sebagai freelance. Sudah hampir 5 bulan saya berstatus freelance, dan selama itu juga saya merasakan suka duka menjadi orang yang mengharapkan pekerjaan dari orang lain. Untuk pertama kalinya selama saya bekerja di bidang audio visual, baru kali kemarin saya mengerti rasanya di PECAT DARI PROJEK oleh producer dengan alasan saya kurang kompeten. Kalimat dari producer yang bilang “Saya tidak cocok untuk projek ini” menjadi bahan evaluasi untuk saya setelah menghabiskan waktu selama 1 bulan untuk meriset dan merangkai cerita untuk program TV. Sekedar informasi, projek yang saat itu saya kerjakan adalah Program TV Feature dokumenter dengan tema bisnis.

Saya dapat informasi ini dari seorang teman, dia merekomendasikan saya sebagai scriptwriter untuk projek temannya. Setelah bertemu produser dan memberikan karya yang pernah saya buat serta dijelaskan tentang program yang akan berjalan, dia mengajak saya bergabung menjadi bagian timnya. Walaupun saya belum pernah membuat karya dokumenter bertema bisnis tapi tantangan itu saya terima karena saya yakin semua bisa dipelajari.

Namun seiring waktu berjalan nampaknya Produser melihat hal lain. Setelah saya mengirimkan storyline dan juga beberapa pertanyaan untuk narasumber dia melihat saya kurang cocok untuk projek ini. Bukan cuma pacaran yang punya status “gantung” dipekerjaan pun bisa begitu. Selama dua minggu saya di “antepin” baik dari produser ataupun tim yang lain. Di masa menunggu itupun saya bertanya-tanya  “Apakah projek ini bermasalah?” atau “Ada masalah dengan saya?”. Sampai akhirnya ada whaspp dan saya diminta untuk bertemu di kantor……dan (simsalabim) saya diberhentikan.

Saya jadi teringat perkataan seorang kawan yang sangat saya hormati “Wed lo harus liat dunia di luar kantor. Di sini kerja nyaman banget buat lo, tapi di luar sana lo harus siap beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda.” Tadinya saya gak ngerti apa yang dia maksud tapi rasanya sekarang saya paham.

Tidak saya tidak marah ataupun kecewa, ditulisan ini saya sekedar ingin mencerna dan mengevaluasi pengalaman yang telah terjadi. Baiklah saya akan membuat perbandingan rasa yang saya dapat pada saat di kantor dulu dengan pengalaman saya bekerja dari rumah.

Continue Reading

Life note | Opini

4 hal yang membekas di hati, Juni 2016.

By on July 3, 2016

This slideshow requires JavaScript.

Bulan Juni gak terasa sudah berganti ke Juli. Waktu 30 hari rasanya kok singkat banget apalagi Juni tahun ini berbarengan dengan bulan Ramadhan. Gak cuma Ramadhan di bulan Juni juga bertepatan dengan ulang tahun ibu kota Jakarta. Jadi sudah sewajarnya kalo bulan Juni rasanya sangat seperti perayaan festival (untuk saya), ramai, riuh dan menyenangkan.

Selain itu secara personal ada beberapa pengalaman yang harus saya jadikan pelajaran, khususnya terkait dengan pekerjaan. Maklumlah ini tahun pertama saya berstatus sebagai freelance. Menghadaapi bulan Ramadhan sebagai freelance, ternyata penuh dengan adrenalin.

1. Sale dimana-mana

Buat yang ingin memaksimalkan pengeluaran shopping, sebaiknya tahan hasrat untuk sampai di bulan Ramadhan dan Ulang tahun Jakarta. Sunggu sepanjang saya survey ke mall alias cuci mata di bulan ini, kata Sale gak lepas dari pandangan mata. Sale mulai dari 20% bahkan 80% malah ada lagi yang ditambahin lagi sale-nya. Udah sale di sale-in lagi. Ini gak cuma berlaku belanja di mall tapi juga belanja online. Semua brand seperti berlomba memberikan sale untuk memancing pembeli di bulan festival Juni. Apalagi dalam rangka ulang tahun jakarta, pememkot melaksanakan juga Jakarta Great Sale di hampir seluruh mall Jakarta dan juga Pekan Raya Jakarta.

Tapi harus tahu juga mana produk yang beneran sale atau memang harganya sudah di mark up. Biasanya saya suka scanning harga di beberapa toko favorit di bulan-bulan biasa. Jadi saya tahu harga normal produk itu dan pada saat bulan Sale saya akan ngecek balik, apakah barang itu beneran di sale atau sekedar mark up dari harga normal. Meskipun banyak kata sale tetap harus jadi pembeli yang cerdas yah. So sebaiknya tahan-tahan deh hasrat belanja sampai bulan Juni.

2. Banyak info lomba

Masih berkaitan juga dengan Bulan Ramadhan dan Ulang Tahun Jakarta selain banyak sale banyak juga lomba-lomba yang diselenggarin sama brand dan juga mall. Baik itu lomba nulis, lomba #ootd instagram, lomba foto, lomba quote dan jenis lainnya. Biasanya info lomba itu bisa didapat online lewat social media. Dengan info lomba di social media jangkauan informasi lebih luas untuk si penyelenggara. Hadiahnya pun lumayan banget, mulai dari voucher belanja, coupon travel, produk, uang tunai bahkan travelling ke luar negeri.

Seperti yang saya alami di Juni kemarin. Berhubung saya tipe yang doyan lomba dan hadiah, saya ikutan lomba Run Hijab Style Senayan city X Debenhams Indonesia bersama Yulia dan Rima. syukurnya dapet Juara 1 dong (hehehe). Hadiahnya lumayan loh, voucher belanja 1,5 juta (dibagi 3 yah) kan lumayan duit buat beli baju lebaran jadi masih ada lebihan (hehe).

3. Macet Jakarta berlebihan di minggu kedua dan ketiga

Jakarta macet emang hal yang biasa yah, cuma kalo macetnya gak kenal waktu itu hal yang tidak biasa setidaknya buat saya. Biasanya macet Jakarta kan bisa ditebak waktunya, nah bulan Juni kemarin prediksi macet berdasarkan waktu jadi gak berlaku. Apalagi di minggu kedua dan ketiga. Bisa jadi ini karena budaya “Buka Puasa Bersama” kaum urban Jakarta. Kita harus pinter memprediksi kondisi jalan dan milih moda transportasi yang cepet kalo gak mau berakar di jalanan (hehehe).

Transportasi online motor masih jadi pilihan untuk saya menghadapi Jakarta. Alasannya gak lain karena murah dan cepat. Kalo kamu pilih kendaraan apa?

4. Siapin dana cadangan

Yes, ini penting buat saya yang bekerja dari rumah alias gak punya bos dan kantor. Saat saya masih ngantor sering denger cerita dari temen yang freelance kalo saat bulan puasa biasanya sepi kerjaan. Yang artinya sepi pemasukan juga. Tadinya saya kurang ngerasa’ne maksudnya gimana. Tapi setelah ngalamin sendiri saya ngerti juga (haha).

Sebagai pekerja yang berharap orderan dari klien, saya harus pinter mengatur pemasukan. Selama bulan puasa, jarang banget ada order kerjaan. Mungkin bisa jadi karena produksi promosi/ advertising klien di bulan ini rada woles (setidaknya yang saya rasakan). Mereka biasanya sudah nyipain materi promo sebelumnya untuk ditayangkan saat bulan Ramadhan.

Karena menganut prinsip “Rejeki ada yang ngatur” & “Tenang nanti ada kerjaan lagi” saya jadi kurang berhati-hati mengatur keuangan bulan Juni (hahaha). Pengeluaran untuk gaya hidup tidak diimbangin dengan pemasukan kerjaan. Walhasil saya jadi deg-degan di minggu keempat apalagi mau lebaran ye kan, kok ya gak ada modal (hahaha).

Yes inilah pelajaran bulan Juni saya. Selamat datang Juli, please be nice.

 

Continue Reading

Life note | Opini

Siapin 5 hal ini sebelum resign!

By on May 20, 2016

Melanjutkan post Resign? Enggak? 4 rasa khawatir sebelum resign ditulisan ini saya ingin berbagi apa saja yang saya siapkan sebelum resign. Saya anaknya tipe yang well prepared, apapun harus saya persiapkan untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi. Mungkin bawaan karena kebiasaan kerja, dulu mah Iwed anaknya gak gituh (hehehe).

Selama 1 tahun itu saya nyiapin segala hal yang saya butuhkan untuk menjadi seorang freelance. Saya memutuskan untuk tidak bekerja terikat sebagai karyawan lagi di perusahaan dengan berbagai pertimbangan. Berstatus freelance rasanya pilihan yang tepat untuk saya (dipost berikutnya saya akan share Kenapa saya memilih freelance). Tapi sebelum menjadi seorang freelance ini beberapa hal yang harus saya persiapkan untuk menghadapi persaingan kedepan.

1. Rencana setelah resign

Rencanakan hidupmu setelah resign. Selesai masalah dikantor lama maka akan muncul masalah berikutnya “Mau ngapain abis resign?”. Saya pribadi memutuskan untuk bekerja sebagai seorang freelance karena saya ingin belajar dunia diluar kantor saya terdahulu. Kedepannya saya berpikir untuk sekolah lagi (mohon doanya). Apapun itu sebaiknya memang kita punya rencana setelah resign, mau kerja di perusahaan lain, mau dagang, mau lanjut sekolah, mau menikah, mau freelance dan lain sebagainya. Rencana-rencana ini yang menentukan persiapan seperti apa yang kamu butuhkan sebelum resign.

Baiknya rencana ini memang masih ada hubungannya dengan apa yang kamu kerjakan sekarang. Itupun kalo memang kamu masih berminat dengan pekerjaan yang kamu jalani. Kalopun enggak ada hubungannya juga gak papa (hehe).

2. Networking

Seberapa banyak saya mengenal orang dan seberapa banyak saya dikenal orang itu adalah networking (menurut saya). Berhubung saya bekerja di industri (katanya) kreatif mau tidak mau networking adalah hal penting. Selama 1 tahun kebelakang hari-hari saya habiskan untuk menjalin networking. Networking ini gak melulu urusan kerja, tapi teman teman lama dari masa sekolah saya hubungi kembali entah di sosial media atau personal  via whaspp. Saya sadar kalo 4 tahun masa bekerja, saya jarang bahkan cenderung tidak pernah kontak dengan mereka. Ini beberapa hal yang saya lakukan untuk networking:

  • Menghubungi teman masa sekolah
  • Aktif lagi di sosial media – facebook, linkedin, tinder (yes tinder!)
  • Aktif di beberapa komunitas yang saya suka

bfb2f711712558dada3332461d49ec18Yang terpenting dari networking menurut saya adalah be honest. Saya menghubungi teman-teman lama bukan hanya sekedar basa-basi menanyakan kabar kemudian udah gituh ajah. Biasanya berawal dari halo-halo di whaspp kami akan lanjutkan obrolan dengan ketemuan. Mungkin saja setelah bertemu ada suatu hal yang bisa kami kolaborasikan bareng. Saya tipe orang yang lebih senang bertatap muka dan ngobrol panjang dari pada capek ngetik atau kuping panas karena telponan lama.

Aktif di Tinder mungkin buat kalian agak random sih (hehehe). Saya ngaku kalo saya cukup aktif menggunakan tinder malah ada teman yang bilang saya ini aktifis tinder (hehehe). Tinder salah satu apps yang cocok untuk saya menambah teman. Niat saya make tinder memang untuk menambah teman, kalo ternyata berlanjut menjadi pacar saya anggap itu bonus (haha). Di tinder saya menemukan beberapa kenalan (yang akhirnya menjadi teman) dengan minat sama atau bahkan ternyata bekerja di industri yang sama. Saya sih percaya jika niat kamu baik maka kamu akan bertemu orang-orang baik.

Soal aktif dikomunitas ini juga cara saya untuk networking. Saat ini saya aktif di Hijab Speak dan Cewequat dari situ ternyata membuka jalan saya untuk kenal dengan perempuan perempuan kece nan keren seperti Fikhanza, Ollie Salsabila, Bunga Mega, dll. Kenapa saya bilang kece nan keren? karena di usia muda mereka sudah bergerak membuat perubahan yang baik tidak hanya sekedar komplain. Bergabung di komunitas ini juga salah satu cara saya keluar dari inner circle yang itu-itu aja. Saya jadi mengerti ada banyak hal menarik diluar pekerjaan. Dan bersyukurnya apa yang saya pelajari di dunia kerja ternyata bisa ngasih kontribusi juga di dalam komunitas ini.

3. Skill/ Kemampuan

Berhubung saya ingin menjadi seorang freelance, maka saya harus punya kemampuan lebih dibandingkan freelance-freelance lainnya. Saya paham persaingan diluar sana ketat tapi saya percaya kalo rejeki gak ketuker asal kita tetap berusaha. Selama setahun kebelakang saya mulai berpikir tentang “Saya ingin dikenal orang sebagai apa?” dan ini berkaitan dengan kemampuan yang akan kembangin. Selama bekerja diperusahaan saya memang mengerjakan banyak hal dari situ saya memilah-milah mana yang jadi minat saya. Akhirnya menulis saya pilih menjadi minat saya, dan memproduksi video menjadi kemampuan saya berikutnya. Beberapa hal yang saya lakukan untuk nambah skill:

  • Update artikel perkembangan industri kreatif
  • Menjadi kontributor di Rula.co.id
  • Berlatih english writing

a7644a884f450292236a98dd963b460aTahu akan kemampuan yang kita miliki jadi hal penting untuk seorang freelance. Jangan sampai kita jual diri ke orang lain tapi gak tahu jualan apa. Yang ada orang akan bingung menawarkan pekerjaan apa yang cocok untuk kita. Pun jika kita memutuskan untuk berdagang atau memulai usaha sendiri, kita harus punya kemampuan dan misi yang niche tentang produk kita nantinya. Pastikan kita riset dulu dan fokus akan kemampuan yang akan kita jual nantinya setelah resign.

4. Duit cadangan

Ini lumayan bikin puyeng sih. Setahun pertama saya masih gak begitu peduli, soal tabungan sebelum resign. Duit gajian abis buat jajan dan jalan. Tiga bulan mendekati jadwal resign saya baru panik. Hahaha. Mohon ini jangan ditiru. Toh akhirnya saya beneran resign tanpa ada duit cadangan, sumpah saya mah nekat. Saya percaya rejeki gak akan lari kemana #iwedngeles. Tapi sebaiknya memang rencanakan keuangan jauh jauh hari sebelumnya jika kita memang berniat resign. Uang cadangan ini berguna untuk biaya hidup kita selama belum ada pekerjaan atau pemasukan baru. Bisa juga berguna untuk modal buka usaha. Yang bisa kita siapkan untuk duit cadangan:

  • Ikutan arisan
  • Buka tabungan berjangka
  • Jangan kebanyakan belanja gak penting

5. Pasrah ajah

Urusan resign atau enggak buat saya sama kayak urusan siap nikah atau enggak. Keputusannya harus ‘ajeg’, orang lain cuma bisa kasih masukan tapi yang memutuskan adalah kita sendiri. Jika memang kita sudah yakin ‘saat ini’ untuk resign, persiapan yang udah saya sebutin ini gak akan kamu pusingin. Kamu udah yakin bahwa resign adalah keputusan yang baik selanjutnya kamu percaya dan pasrah  aja sama yang Punya Rezeki. Saya yakin jika kita sudah berusaha dengan baik pasti akan ada hasil yang baik didepan. Gak perlu lagi kamu puyeng dan panik karena belum tahu mau merencanakan apa setelah resign. Keluar aja dulu dari satu pintu maka pintu pintu yang lain akan terbuka. Jangan lupa juga untuk memperbanyak sedekah dan ibadah. Insya Allah semua ada berkahnya.

af5d00daf4a4468d49dc7e743a7bf1b6Itu 5 hal yang bisa saya bagi pengalaman sebelum resign kemarin. Ini gak berlaku pasti loh yah tergantung keadaan kamu aja. Syukurnya setelah menjadi seorang freelance saya lebih HAPPY. Banyak hal yang menyenangkan saya dapat setelah saya memutuskan freelance. Sering kali kita suka lupa akan hal yang bikin happy. Karena tuntutan financial akhirnya kita mau gak mau kerja ditempat yang bikin kita gak happy padahal itu gak asik sih. Kerjain aja apa yang bikin kita seneng, dan Insya Allah rejeki pasti ngikutin.

Temen-temen yang punya pengalaman persiapan sebelum resign, monggo loh di bagi-bagi disini. Saya akan sangat senang sekali mendengar pengalaman kalian dan bisa jadi masukan buat yang sedang galau (hehe)

 

Continue Reading

Life note | Opini

Resign? Enggak? 4 perasaan khawatir sebelum resign.

By on May 9, 2016

Awal tahun 2016 ini jadi saat yang berkesan untuk saya, khususnya di bulan Maret. Selain saya bertambah usia (uhuk) di bulan ini, di sini saya juga menyandang status baru. Bukan, bukan sebagai bini orang (hehehe) tapi sebagai seorang freelance. Lima tahun sudah saya kerja di Samsara Pictures dan selama itu juga saya dikenal sebagai Dewi Samsara (red: Dewi yang kerja di Samsara). Memutuskan menjadi freelance bukan perkara gampang buat saya. Apalagi Samsara ini adalah kantor pertama kali tempat saya bekerja seusai lulus kuliah. Ilmu di kuliah sama kerjaan sama sekali gak ada nyambungnya babar-blas. Cukup banyak drama yang terjadi antara saya dan saya untuk memutuskan resgin (hehehe).

Di tulisan ini saya pengen sharing tentang perasaan pribadi menuju detik-detik resign. Mungkin aja kamu juga lagi mengalami masa yang sama.  Masa dimana bingung memutuskan resign? enggak? resign? enggak? (mbari ngitung kancing baju).  Sini sini saya temenin biar kamu gak sendirian (hehehe).

  1. Khawatir gak ada penghasilan setiap bulan

Salah satu kenyaman menjadi karyawan adalah tiap bulan saya dapet pemasukan yang pasti dari gajian. Duit gajian ini biasanya saya pake buat kebutuhan sehari-hari, tunjangan gaya hidup, dan syukur-syukur ada lebih buat tabungan (hahaha). Sebagai orang yang lulus kuliah langsung kerja, saya belum pernah tahu rasanya “Gak punya penghasilan bulanan”. Selama lima tahun saya terbiasa menjadi orang yang nungguin tanggal 28 datang tiap bulannya.  Dan pikiran “Gak punya gaji tiap bulan” sebagai seorang freelance sangatlah bikin saya panik.

Nanti urusan makan-makan di mall gimana?

Nanti kalo gue mau belanja gimana?

Nanti bayar tagihan kartu kredit gue gimana?

Dan masih panjang deretan “Nanti gimana lainnya?”. Apalagi saya tipikal yang susah nabung (hahaha keplak kepala sendiri). Sebelum memutuskan resign saya banyak baca artikel soal Perencanaan keuangan sebagai seorang freelance dan kebanyakan disitu tertulis Siapkan dana cadangan sebesar 12 bulan gaji anda saat ini. Yawlohhhh gimana saya punya dana cadangan kalo tiap bulan gajian abis buat bayar tagihan kartu kredit. Nah loh perasan kayak gini nih yang bikin jiper buat resign.

2. Khawatir gak ada yang ngasih kerjaan

Kerjaan yang dimaksud disini kerjaan yang dibayar yah. Kalo urusan kerjaan yang gak dibayar mah banyak (hehehe). Setelah resgin hidup gak berhenti kan yah, masih ada cicilan yang harus dibayar, masih ada teman-teman yang ngajak reunian, dan masih banyak daftar barang yang pengen saya beli. Saya tetep perlu kerja yang berpenghasilan untuk menunjang semua itu. Nasib perempuan single, harus bisa nyari penghasilan sendiri tanpa bergantung sama suami (suami yang mana coba).

Pikiran soal “Nanti saya dapat kerjaan dari mana?” sangatlah mengganggu. Selama jadi karyawan, pekerjaan selalu saya dapatkan dari produser di kantor. Kelar kerjaan satu, dikasih lagi tanggung jawab ini. Belum kelar tanggung jawab ini, dapet lagi kerjaan itu, begitu seterusnya. Dan pekerjaan-pekerjaan itu yang membuat saya produktif dan merasa ada artinya di kantor. Ilmu, pengalaman dan pengetahuan saya bertambah seiring dengan bertambahnya tanggung jawab di kantor. Pertanyaan dibawah ini bikin saya lagi-lagi jiper untuk resign….

Terus kalo resign yang ngasih gue kerjaan siapa?

3. Khawatir dengan kemampuan sendiri

Meskipun sudah bekerja selama 5 tahun di Samsara dan sedikit banyak mengerti soal produksi video, saya masih gak pede dengan kemampuan saya. Saya gak yakin setelah saya resign apakah ada yang akan ngasih kerjaan karena kemampuan yang saya miliki karena saya sendiri gak tahu kemampuan saya apaan (hahaha). Jika ditanya profesi saya apa, saya akan jawab “hmmmmm nulis iya, producer iya, wadrobe juga iya”. Jika orang yang bekerja menyembuhkan orang sakit disebut dokter, dan orang yang bikin baju disebut fashion designer atau tukang jait.

Terus kerjaan saya yang bikin konsep cerita, nulis skrip, bikin budget produksi, calling crew, ngurusin wadrobe, dan perintilan syuting lainnya disebutnya apa??

Tuhkan nambah pertanyaan  lagi  yang bikin saya jiper.

4. Khawatir ngomong sama orang tua

Secara saya masih hidup menumpang dengan orang tua jadi kondisi ini harus diadepin. Saya ngerjain apa, kedua orang tua saya sebenernya juga masih bingung. Berkali-kali saya coba jelasin, tapi berkali-kali juga mereka menganggap saya bekerja di stasiun TV. Cara paling mudah ngasih tahu mereka saya kerja apa, saya bilang aja “Itu loh ma, aku bikin-bikin iklan yang nyelip di sinetron kesukaan mama.” Dan jawaban mama adalah “Ya kok bikin iklan sih kak, siapa yang nonton.” Yup begitulah, siapa coba orang yang demen nontonin iklan selain mereka yang bekerja di industri itu. Saat saya bilang “Ma aku mau resign” mama selalu balikin lagi pertanyaannya

Emang kamu udah ada tempat kerja baru? terus kalo kamu resign mau kerja dimana?”

Hmmmm saya bingung jawabannya.

574e4621f4d5eacae89f675cce37f266

Kekhawatiran diatas menghantui saya kurang lebih selama setahun dan makin horor menjelang 3 bulan sebelum resign. Makin ditanyain saya makin bingung jawabnya. Tapi syukurnya masa-masa itu udah lewat. Di posting-an setelah ini saya akan share gimana cara saya menghadapi kekhawatiran ini.

 

Continue Reading