Life note | Opini

Ketika Hidup Banyak Syarat

By on May 5, 2016

“Gue bakal daftar beasiswa itu, kalo gue udah resign dari kerjaan.”

“Tenang aja gue pasti bakal nyelesain buku itu kok, kalo udah gak sibuk.”

Sering gak sih denger kalimat diatas? keduanya punya template yang sama kayak gini, Saya akan + Kalo = Harapan yang gak kejadian. Gak ada yang salah dengan formula ini, tapi rasanya akan salah apabila kata “kalo” itu gak segera kejadian, yang artinya kalimat yang pertama pun juga agak akan kejadian. Kalimat setelah kata “kalo” adalah kondisi ideal yang kita harapkan akan terjadi. Setelah kondisi ini tercapai barulah kondisi di kalimat pertama akan mungkin terjadi. Tapi pada kenyataannya, pun jika kondisi di kalimat kedua sudah terjadi belum tentu juga kalimat pertama akan dikerjakan. Iya kan?!

Sering kali kita menaruh syarat terhadap apa yang pengen kita lakukan dengan menunggu sampai kondisinya ideal. Misalnya seperti ini, “gue akan mulai lari pagi kalo gue punya sport gear yang keren.” Punya sport gear yang keren adaah syarat yang kita buat sendiri untuk rencana-rencana hidup kita. Tapi kejadiannya di lapangan meskipun kita udah punya sepatu running terbaru, belum tentu juga kita bakal rajin lari pagi. Yah mungkin diawal-awal semangatnya membara, tapi lewat sebulan…hmmm lupa sama janji lari pagi.

Ini sebenarnya yang sedang saya alami. Sekedar kalian tahu saja, setelah drama yang berkepanjangan akhirnya bulan Maret lalu saya resmi resign  dari kantor pertama saya. Sebelum saya memutuskan resign, banyak sekali rencana-rencana yang ingin saya lakukan “nanti jika saya sudah berstatus sebagai freelance”. Diantaranya; pengen punya clothing line, pengen rajin nge-blog, pengen ngembangin komunitas ABC, pengen bisa nyetir mobil, pengen jalan-jalan, pengen mahir main gitar, pengen mahir english, dan masih banyak rentetan pengen lainnya. Tadinya semua kepengenan itu terasa jelas di kepala. Saya bagaikan orang yang sangat produktif karena tetap membuat target-target yang realistis dijalani jika sudah menjadi seorang freelance.

Tapi pada kenyataannya, setelah hampir 3 bulan saya berstatus freelance, belum ada kepengenan itu satu pun yang terjadi (hahaha). Pengen rasanya nempeleng kepala sendiri dan bilang “bego lo” – pake gaya bahasa tetris-. Yes saya menyadari kalo saya menjalani hidup ini dengan terlalu banyak syarat. Syarat yang mempersulit saya sendiri hingga akhirnya malah jalan ditempat. Misalnya saja begini, “gue akan mulai nulis blog kalo gue punya koneksi internet di rumah yang kenceng dan juga working space yang kayak di pinterest gituh.”  Kenyataannya preett. Nungguin rumah saya dapet koneksi internet nirkabel sama seperti nungguin adek saya mandi, lamaaaaaaaa. Udah nelpon CS internet provider dari sebulan yang lalu, sampe sekarang gak ada tanggapan sama sekali. Terus nungguin saya punya working space ala-ala pinterest gitu sama aja ngablu-nya. Bukan gak mungkin sih tapi it takes very long time aja biar itu terwujud apalagi dengan kondisi kamar yang sepetak dan barang yang bejubel, preett kok ya sama pesimis.

 

e4435cabf7f6c5fc6623de7d2571f31c

Akhirnya saya berpikir realistis, jika kedua syarat itu gak terjadi maka ujung-ujungnya saya gak bakal nulis-nulis blog. Saya menyadari bahwa intinya kan bukan koneksi internet dan working space-nya tapi nulis blog nya itu yang jadi target saya. Setelah berbulan-bulan akhirnya saya sadar juga untuk menghilangkan syarat-syarat itu (hehehe), dan yeayyy muncullah tulisan ini (kok ya lama banget Wed sadarnya). Hanya berbekal koneksi internet dari hp dengan posisi ngelonjor di kamar yang sepetak, kemudian mejik saya pun bisa menulis (hahaha). Saya baru berhasil mengerjakan satu dari rencana kepengenan bersyarat yang lain. Semoga saja saya konsisten, hehehe.

Intinya dari tulisan ini, sering kali kita terlalu banyak memberikan syarat terhadap hal yang kita senangi. Sampai akhirnya kita terlalu fokus untuk mewujudkan syarat tersebut dan lupa akan hal yang bikin kita happy. Kalo udah kayak gitu sebaiknya kita step back dulu dan tanya lagi reason kenapa kita kepengen mengerjakan hal itu. Jika kita honest, dengan sendirinya hidup gak perlu syarat untuk dijalani. Ketika hidup kebanyakan syarat, yang ada kita jalan ditempat.

Continue Reading

Review | Travel

MUMPUNG LIBUR PANJANG, YUK WISATA KE LEMBANG!!

By on May 4, 2016

Menghabiskan liburan di daerah Lembang adalah pilihan yang sangat tepat, karena selain ketenangan, kenyamanan dan juga udara yang sejuk, di Lembang juga terdapat begitu banyak daerah wisata yang tak berjauhan satu sama lain. Pemandangan dengan hamparan pegunungan, bukit dan juga lembah dapat di nikmati sepanjang jalan yang berkelok-kelok menuju Lembang.

Untuk mengisi liburan ataupun sekedar menghabiskan akhir pekan maka anda bisa memilih beberapa obyek wisata yang cukup terkenal di lembang. Biasanya di musim liburan tempat-tempat wisata akan dipadati oleh pengunjung yang ingin menikmati suasana yang alami dan sekaligur refreshing bersama keluarga.

Berikut adalah tempat wisata alam yang sangat populer di Lembang, Bandung.

  1. Gunung Tangkuban Perahu

Gunung Tangkuban perahu ini memiliki cerita rakyat yang terus berlanjut dari jaman dulu hingga sekarang, menjadi dongeng bagi anak-anak dan menjadi pembelajaran akhlak budi pekerti. Maka sepertinya sudah menjadi satu paket dengan nama Lembang adlah Gunung Tangkuban Perahu, tempat wisata ini adalah salah satu tempat yang paling populer dan menjadi icon nya Lembang yang selalu saja di padati oleh para wisatawan.

Gunung Tangkuban Perahu yang sesuai dengan namanya yang menyerupai seperti perahu terbalik. Menurut cerita rakyat, gunung tersebut berasal dari perahu Sangkuriang yang ditendang hingga jauh dan jatuh dalam posisi terbalik. Jarak menuju Gunung Tangkuban Perahu adalah sekitar 30 kilometer dari pusat kota Bandung. Udara disini sangat dingin sampai terkadang ditutup oleh kabut, dinginnya pada malam hari lebih menusuk tulang, sehingga jangan sampai lupa untuk membawa pakaian yang tebal ataupun jaket tebal.

Ada beberapa tempat menarik di daerah Gunung Tangkuban Perahu yang biasa digemari pengunjung , yaitu Kawah Upas, Ratu, Kawah Domas dan Kawah Jurig

Sumber Gambar : wikimedia.org
Sumber Gambar : wikimedia.org

2. Air Terjun Maribaya

Memasuki kawasan Maribaya membuat perasaan tenang dan nyaman karena disambut dengan suara gemercik air terjun yang membuat telinga seperti menikmati suara alam. Pepohonan yang tinggi menjulang dan rindang memayungi sebagian besar kawasan ini. Selain udara yang sangat bersih, kawasan inipun bebas dari sampah sehingga air terjunnya terlihat begitu jernih.

Maribaya dengan kemolekan alamnya membuai mata yang jenuh dan lelah dengan hiruk pikuk kota, kebanyakan pendatang datang bersma keluarga untuk menenangkan pikiran dan untuk refreshing.

Di dalam kawasan Maribaya terdapat sebuah jembatan yang letaknya tepat didepan air terjun Maribaya, dan nama jembatan itupun sama dengan tempat wisatanya yaitu jembatan Maribaya. Sangat memukau menyaksikan keindahan alam ini.

Air Terjun Maribaya terletak di Taman Hutan Raya Ir.Djuanda Jalan Maribaya, Lembang, Bandung, Indonesia. Jarak dari pusat kota sekitar 15 Kilometer. Luas Air Terjun Maribaya sekitar 6 Hektar. Di tempat wisata ini terdapat 3 air terjun/ curug, yaitu Curug Cikoleang, Curug Cikawari, dan Curug Cigulung. Air Terjun Maribaya juga merupakan salah satu tempat wisata favorit keluarga yang akan selalu ramai pengunjung pada musim libur.

Di Kawasan Maribaya juga terdapat pemandian air panas dari belerang, ada beberapa pemandian air panas yaitu :

-Kamar Berendam Private Tirga Raga dengan harga untuk setiap orangnyaRp.90.000

-Kolam Rendam Kaki atau Foot Spa dengan harga setiap orangnya Rp.30.000

-Deluxe Pool dengan harga untuk tiap orangnya Rp.75.000

-VIP Pool untuk harga perorang Rp150.000 harga ini sudah termasuk ikan bakar, handuk, dan bandrek.

Sumber Gambar : blogspot.co.id
Sumber Gambar : blogspot.co.id

3. Jendela Alam

Jendela Alam adalah tempat wisata untuk anda yang ingin berwisata sambil belajar. Terletak di Komplek Graha Puspa, Jl.Sersan Bajuri Km.4,5 Cihideung, Lembang, Bandung, Indonesia. Di Jendela Alam terdapat beberapa fasilitas yaitu, anda dapat melakukan kegiatan seperti bercocok tanam, perkebunan, pertanian, pembibitan, juga perternakan seperti memberi makanan pada kelinci, bebek dan ayam, anda juga dapat menunggangi kuda poni, dan dapat pula memerah susu sapi, disini juga terdapat area outbone.

Tempat wisata ini buka dari pukul 09.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB, tapi untuk hari Sabtu, Minggu dan hari libur buka mulai pukul 09.00 WIB sampai pukul 16.30 WIB. Untuk masuk ke dalam wisata ini cukup membayar Harga Tiket Rp.10.000 dan pada weekend Rp.15.000,-

Sumber Gambar : wikiwisata.com
Sumber Gambar : wikiwisata.com

4. Obyek Wisata Dusun Bambu

Suasana pedesaaan yang menjadi ciri khas dari Dusun Bambu sangat terasa saat kita memasuki kawasan wisata ini. Dusun Bambu ini berada di Dusun Bambu, Cisarua Bandung Barat. Obyek wisata ini berada di kaki Gunung Burangrang Cisarua Lembang ini sebenarnya memiliki fasilitas penunjang yang cukup lengkap seperti adanya restoran dan villa. Selain itu terdapat fasilitas lain yang membuat Dusun Bambu semakin lengkap yaitu Pasar Khatulistiwa dan Tegal Pangulinan.

Berbagai macam kegiatan yang bisa kita lakukan di dusun bambu mulai dari menikmati keindahan panorama pedesaan yang begitu alami, kegiatan ini bisa dilakukan dengan bersepeda berkeliling desa ataupun joging, selain bila ingin menginap maka bisa mendirikan kemah.

Dusun Bambu memiliki semua sarana yang lengkap untuk berlibur bersama keluarga, bila anda ingin mencari hotel atau penginapan tak perlu jauh-jauh karena di dalam kawasan Dusun Bambu anda bisa menginap di cottage yang bernuansa pedesaan namun memiliki kelengkapan yang modern. Untuk mencari hotel murah yang ada di Lembang anda bisa klik disini

Sumber Gambar : blogspot.co.id
Sumber Gambar : blogspot.co.id

Selamat berlibur Good People.. 🙂

Continue Reading

Opini

MY FEARS AND GOALS

By on November 27, 2015

My fears is me, myself and I.

Setiap orang pasti punya ketakutan dan kekhawatiran dalam diri sendiri. Dan untuk saya, ketakutan terbesar saya adalah menghadapi diri saya sendiri. Kenapa? Karena saya merasa memiliki dua kepribadian yang saling bertolak belakang. Kalo saya baca di internet isitilahnya Bipolar, tapi rasanya terlalu berlebihan jika saya menyebut diri sendiri bipolar syndrom.

Seperti halnya Yin-Yang, hitam-putih, baik-buruk, suka-duka begitu juga dengan kepribadian saya. Eits ini bukan berarti saya bermuka dua yah, yang ngomong di depan dan belakang beda. Tapi ini lebih kepada sikap saya dalam menanggapi suatu hal selalu dilihat dari dua sisi saya. Jadi gini saya memiliki dua karakter, Dewi dan Iwed. Saya mencoba menyederhanakan pemikiran saya mengenai mereka.

dewivsiwed

Dewi

Penurut dan taat peraturan. Tidak berani ambil resiko, cari aman. Introvert, kaku, plegmatis. Bijak, dewasa. Perencana jangka panjang. Saving. Warna: Hitam

Iwed

Spontanious – dreamer. Rebel, Suka hura-hura. Gak memikirkan resiko. Pemikir jangka pendek. Ekstrovert, sanguin. Gampang bosan. Spending. Warna: Kuning

Karena dua karakter yang kontradiktif ini saya jadi sering pusing sendiri. Berdebat sambil bicara dengan diri sendiri menjadi kebiasaan sehari-hari yang seringkali bikin orang disekitar saya bingung sama tingkah saya. Dewi sering banget nyalahin Iwed karena keteledoran dan pilihan spontan yang berujung salah. Gitu juga dengan Iwed, sering ngompor-ngomporin Dewi yang bukan seorang risk taker. Iwed seorang pemimpi dengan segala imajinasi. Sedangkan Dewi merasa hidupnya saat ini sudah sangat nyaman dan tercukupi. Saat menulis ini pun saya juga bingung mau ambil sudut pandang dari mana. Dewi yang ngomongin Iwed atau seorang Iwed yang ngomongin Dewi. Arggghhhh.

Dengan dua karakter ini, jadi tantangan buat saya untuk saling mendamaikan mencari jalan tengah. Jika saya terus berkutat dengan perbedaan keduanya, maka gak akan pernah ketemu titik tengahnya. Berakibat saya keseringan jalan ditempat dan selalu merasa puas dengan impian yang hanya ada diangan-angan. Just dreaming not action. Please don’t do that Dewi & Iwed!!! (lah ini yang nulis siapa? – hahaha auahhh)

My Goals

Beberapa minggu lalu di pagi hari yang cerah ceria, saya di whatsapp sama kak Bunga yang ngasih pertanyaan sulit. Pertanyaannya lebih sulit dari game Duel Otak “Wed 2 hal yang mau kamu kerjain terus sampai mati apa?”. Saya cuma bisa jawab “Kak masih pagi, kok udah ngasih pertanyaan susah bener. Belum tahu kak.”

Yes ternyata diusia yang (tidak lagi) muda ini, saya masih bingung soal apa yang mau saya lakukan di hidup ini. Bukannya menjawab pertanyaan, obrolan di whatspp malah berlanjut dengan saya curhat perihal passion hidup. Kak Bunga ngasih beberapa insight supaya saya tahu apa yang sebenarnya mau saya kerjaan.

Pertanyaan kak Bunga pun saya lempar ke temen-temen lewat status FB. Saya mendapatkan jawaban yang sangat beragam. Paling tidak beberapa temen-temen saya di FB sudah tahu apa yang mau mereka kerjakan dalam hidup ini sampai mati. Mereka sudah tahu apa hal yang menjadi semangat dan gairah mereka setiap bangun pagi. Sedangkan saya entahlah?!

To be honest diparagaf ini saya belum bisa memutuskan apa yang akan menjadi goal saya. Jika saya jawab soal uang, kekuasaan dan kesenangan itu sudah pasti bukan menjadi tujuan hidup saya. Ya siapa sih yang gak mau tiap bulan liburan ketempat-tempat eksotik atau belanja barang-barang fancy tanpa harus mikirin “bayar cicilan gimana?”, saya ingin hidup itu, tapi ya gitu hanya sekedar ingin. Saya tidak mau menjadi bagian orang yang bekerja keras selama 6 bulan. Meski mengeluh dengan beratnya pekerjaan namun tetap dikerjakan karena kebutuhan untuk mengumpulkan uang. Kemudian uang dihambur-hamburkan untuk liburan keluar negri terus pameran foto deh di media sosial hanya untuk bikin warga dunia maya iri. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi tidak, itu bukan saya.

Saya ingin memiliki hidup yang berarti dan bermanfaat. Meskipun bukan untuk orang banyak, setidak untuk saya dulu saja. Saya ingin terus menciptakan karya yang memiliki makna untuk saya sendiri dan syukur-syukur untuk orang lain. Karya seperti apa? Karya apa saja yang bisa saya buat. Saya tidak mau membatasi diri akan kemampuan yang saya miliki.

Saya ingin banyak berbagi kepada orang disekitar saya. Jika saya tidak bisa berbagi uang, saya bisa berbagi tenaga. Jika saya tidak bisa berbagi tenaga, saya akan berbagi ilmu, pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki. Intinya saya ingin berbagi. Karena dengan berbagi, saya merasa ada gunanya hidup di bumi ini. Saya tidak mau mengecewakan Sang Pencipta, membuat dia menyesal telah menciptakan saya di dunia ini hanya untuk menuh-menuhin galaksi aja (hehehe).

Di akhir tulisan ini jika saya ditanya lagi “Wed 2 hal yang mau kamu kerjain terus sampai mati apa?” maka saya bisa menjawab dengan tegas..

SAYA INGIN TERUS BERKARYA & BERBAGI SAMPAI MATI.

goals

 

 

 

Continue Reading

On Duty | Opini | street style | Uncategorized

Singapura ibarat kamar display Ikea

By on November 24, 2015

  
Kamis lalu akhirnya saya punya alasan untuk ke luar negri, mengisi paspor yang sudah dua tahun gak ada cap-nya. Saya sangat excited dapat kesempatan ke Singapura tidak hanya karena alasan berlibur tapi juga bekerja. Majalah gadis ngasih saya kesempatan untuk meliput festival musik Sundown Festival di Marina Promenade. Acara tahunan Singapura dalam rangka promosi band-band di Asia.
Saya makin girang karena yang jadi band penutup festival adalah band rapper Korea paporit saya Epik High. Wuhuuuu.

Ditulisan ini saya tidak membahas soal festival (yang mana Epik High selalu epic disetiap tampilannya) tapi saya mau beropini sebagai orang yang baru pertama kali ke Singapura.

Saya hanya punya kesempatan menikmati Singapura selama 4 hari 3 malam, itupun dengan agenda kerja (liputan festival musik) jadi saya tidak punya banyak waktu untuk eksplorasi Singapura. So it’s just my subjective opinion yah. Kalo gak setuju yaudah sih dibawa santai ajah. Hehehe.

World citizen
Sebelum berangkat ke Singapura, saya tidak banyak mencari tahu soal tempat wisata disana. Saya mengandalkan temen (rarambol) yang emang sudah sering pelesiran ke luar negri. Dan ini adalah 3 kalinya dia ke Singapura, jadi yaaa saya depend on her. Saya pengen tahu surprise apa yang dikasih buat saya.

  

Saat pertama kali sampai di bandara Changi, saya terkesima dengan begitu beragamnya jenis manusia. Orang bule, orang asia, orang india, dan banyak orang-orang lainnya. Kuping saya dibikin pusing mencerna beragam jenis bahasa yang keluar dari mulut mereka. Gak paham. Disini saya sadar bahwa ternyata saya adalah bagian dari masyarakat dunia. Selama ini saya cuma tahu Indonesia aja, itupun juga cuma sebagian kecil Indonesia. Saya terbiasa menjadi mayoritas di negara sendiri dan ketika melihat keberagaman di bandara Changi, saya tertegun menjadi kaum minoritas (meskipun banyak juga orang Indonesia disana). Melihat kondisi ini saya bertanya “Apakah saya sudah siap menjadi bagian masyarakat dunia?”.



Apalagi saat ini masyarakat Asean sedang menggalakkan SME. Gak lama lagi (bahkan memang sudah terjadi) warga Asean sangat mudah untuk mendapatkan akses antar negara di Asean baik itu bisnis, ekonomi, pendidikan, dan SDM. Persaingan tidak lagi hanya antara orang Indonesia saja, tapi saya juga akan bersaing dengan warga Asean. Mereka sangat mudah ke Indonesia, begitu juga sebaliknya. Bertanya lagi “Siapkah saya bersaing dengan mereka?”

Fasilitas
Semua yang ada di Singapura, tertata sangat rapih, pih pih. Kayaknya gak ada celah untuk komplain soal fasilitas disana. Jalanan, bangunan, transportasi publik, penunjuk jalan, tong sampah, semua tersusun sangat rapih. Semua seperti sangat dipikirkan matang. Kalo kata mba Wawa, Singapura itu layaknya kota di game Simcity, rapihhhhh bener. Semua dapat diakses dengan mudah, nyaman dan aman. Di Jakarta, pulang kantor jam 11 malam naik bis pasti agak horor yang (apalagi cewek) tapi disana biasa aja. Gak ada rasa khawatir bakal kecopetan atau digodain mas-mas pinggir jalan. Semua orang terlalu sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Bahkan pohon-pohon disana juga terdata, kapan harus dipotong kapan harus ditebang (kata bos saya). Itulah mengapa selama perjalanan pohon-pohon menjadi objek perhatian saya.
Gak usah khawatir nyasar disana, karena informasi mau kemana, naik apa semua dapat diakses dengan mudah. Saking mudahnya sampe saya ngeras kalo nanya jalan ke orang itu akan sangat memalukan. Ekspresi orang yang kita tanya seolah berkata “Hei, lo cari aja di internet atau baca peta. Semua udah jelas disana. Bodo banget sih!!.” Malu buat nanya orang.  
Tapi entah mengapa dengan segala kenyamanan dan keamanan yang ditawarkan Singapura, dia tidak memberikan rasa deg deg an di saya. Maksudnya gini, Singapura gak ngasih denyut di jantung ini (asek). Kehidupan disana gak pumping (meskipun semua orang jalannya cepet), gak bikin saya bergairah dan semangat (kecuali buat nonton konser yah). Saya mengibaratkan Singapura seperti kamar display Ikea. Iya bagus, rasanya pengen punya kamar yang kayak di Ikea dengan segala furniture nya.

Tapi ya gitu, saya tetep gak mau tidur atau tinggal di kamar display Ikea. Karena mereka cuma display, kaku dan tidak menunjukan kepribadian dari pemilik kamar (karena gak ada yang tinggal di display room Ikea juga).
Saya lebih suka tidur di kamar rumah, meskipun sempit, penuh barang dan berantakan, tapi kamar saya ngasih energi setiap saya bangun tidur. Ngasih harapan dan gairah untuk menjalani hari. Layaknya Jakarta.

Sedangkan Singapura meskipun cantik tapi gak ada nyawanya, plastik seperti manekin. Singapura memang cocok untuk pelesiran masyarakat urban sebagai weekend gateaway saja. Tapi untuk keseharian, saya tetap memilih Jakarta (kecuali ada tawaran kerja dengan gaji yang sesuai di Singapura, saya sih gak nolak, hehehe). Singapura ibarat (lagi) seperti hutan beton. Banyak gedung tinggi menjulang tapi gak ada orangnya. Orangnya dikit banget. Mending warga Jakarta sumbangin deh ke Singapura, biar lebih bergairah dan dinamis gitu hidup disana (hehehe).
Though saya tetep akan merencanakan balik lagi ke Singapura, mencari denyut nadi yang mungkin emang belum berasa aja, karena waktu kurang banyak. Yang pasti kalo kesana lagi, saya harus bawa perlengkapan jogging. Ngiri ngeliat bule-bule yang bisa lari jam 11 siang tanpa khawatir dengan polusi udara.

Continue Reading

Opini | Review

NGERASA GAK PUNYA PASSION APA-APA? TES DI #CEWEQUATBOOK

By on October 29, 2015

To Bunga Mega & CeweQuat,

Terima kasih yang sedalam-dalamnya karena telah berbagi dan memaksa saya membaca buku ini. Saya makin tahu dan (insya Allah) yakin akan apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Udah lama banget saya mencari sosok seperti Bunga Mega dan komunitas yang bisa saling support satu sama lain. Teman-teman yang saling mendukung serta memberdayakan.

Sekali lagi terima kasih.

With love and respect,

Dewi Indriyani (Iwed)

What happen in the future copy

The power of kepepet boleh jadi alasan saya baca buku ini. Sampe rela nge-mall jam 10 pagi disaat toko buku belum buka dan maksa mba & mas nya untuk cariin buku ini yang stocknya tinggal 3 biji (laris banget yah cyiin). Maksain baca buku disela-sela nyokap ngajak ngobrol dan yeayyy saya kelarin buku ini dalam waktu 3 jam sajah (applause for me). Semua itu saya lakukan karena perihal tugas book review #cewequat yang deadline malam ini (hahaha).

Meskipun karena kepepet saya gak pernah nyangka bahwa membaca buku @bungamega mampu bikin saya terkena efek Wow-wow. Seriuosly I found my self and getting know better about me. Dengan bahasa yang sangat ringan buku ini mampu membuka tentang diri saya. Bunga mega (seolah-olah) bisa membaca situasi yang saya hadapi saat ini. Saya cuma bisa manggut-manggut he-eh dengan pernyataan yang dia buat.

Life

What happen in the past, stays in the past.

What happen in the future, you’ll decide

 Di bagian ini saya (mencoba) belajar untuk memaafkan. Banyak kejadian masa lalu (yang ternyata) masih meninggalkan bekas kurang enak untuk saya di masa kini, seperti halnya yang dialami oleh Bunga mega. Mungkin itu yang jadi alasan mengapa saya masih sulit terbuka akan keberadaan orang lain yang bermaksud mengenal saya lebih jauh. Proses memaafkan dan berdamai masa lalu bukanlah perkara mudah tapi bukan tidak mungkin.

The shoes lesson

Kekurangan akan selalu nampak ketika kita membandingkan

Saya termasuk cewek yang sering membandingkan diri saya dengan cewek lain. Saat masa sekolah saya suka mencari “rival” atau lawan tanding cewek yang saya rasa mempunyai kemampuan lebih dari saya entah itu di olahraga, pergaulan atau belajar. Tadinya saya anggap itu sebagai motivasi agar saya mempunyai kemampuan lebih dari mereka. Tapi yang seringkali terjadi bukannya kemampuan saya bertambah, tapi saya malah stress karena ditekan oleh target-target yang tidak masuk akal oleh diri sendiri. Di posisi ini saya menyadari bahwa I don’t have the potential like they do. I have my own purpose, the reason why God put me here..on earth.

Love

Relationship is about compliment.

Saya harus menyelesaikan urusan saya dan diri sendiri untuk jadi mandiri dan dewasa kemudian (mungkin) setelah itu saya akan bisa menerima orang lain sebagai partner hidup. Percuma jika saat ini saya “rungsing” untuk mencari jawaban “kapan kawin?” jika saya sendiri masih belum clear dengan jawaban dari “mau ngapain sih wed di dunia ini?”. Menerima orang lain untuk menjadi partner hidup bukan seperti sendal jepit yang kehilangan pasangannya. Kalo itu sendal tinggal sebelah maka tidak akan bisa dipakai lagi. Saya tidak mau menjadi pribadi yg demanding akan orang lain. Kalo suatu saat partner saya atau saya tidak lagi bersama, saya harus tetap menjadi pribadi yang mandiri dan luar biasa. sepakat dengan pernyataan Bunga mega..

Relationship is not about you and him completing each other.

It is about you and him complementing each other just like hello kitty case (hehehe).

Career

Karakter + Skill

Karakter + Skill = Better You 

Saya berasa di tampar-tampar pas baca bagian ini. Beberapa waktu ini saya sibuk dengan pemikiran “harus nambah skill ina inu biar saja dapat bersaing di dunia kerja”. Orang-orang di kantor yang kesemuanya multitalented dan harus bisa multitasking mewajibkan saya juga kudu punya skill lebih dari satu soal kreatif audio visual seperti menulis, videografi, editing video, dan desain. Jiwa dan raga kayaknya sibuk banget untuk ngasih makan ego “gue harus bisa” yang nyaris melupakan attitude saya. Saya baru sadar, bahwa saya kurang menyimak cerita teman terakhir yang curhat karena saya terlalu sibuk dengan diri sendiri. Wed wake up ur not alone!!!!

Orang yg aktif adalah orang yang masih mencari jati diri dan belum tahu arah tujuan hidupnya

Wadeziq!!! Rasanya seperti ditendang anak gajah , lucu sih anak-anak, tapi tetep aja judulnya ditendang gajah, ngagetin brohhhh. Saya cuma bisa bersiul ala-ala donal bebek “durudurudu lalalala” sambil mlengos kekanan dan kekiri.

That’s what happen with me right now!!! Arghhh damn it!! Suddenly my day becoming so busy. Busy with job, community and responsibility which I didn’t think about the consequences before. Ya saya memang tipe orang yang gampang bosan, sebagai tipe orang influential saya tidak bisa diam dalam waktu yang terlalu lama. Ini juga yang membuat saya suka mencari-cari kegiatan dalam rangka “mengisi waktu luang” yang tidak saya pikirkan jangka waktunya. Saat tiba-tiba semua kesempatan datang secara bersamaan saya jadi kelimpungan dan merasa harus punya ilmu membelah diri jadi 14 kayak Naruto (hahaha).

Saya bukan menyesal atas pilihan yang saya ambil loh, saya hanya baru menyadari orang seperti apa saya ini – I’m a influential type with people & music smart character – (hehehe). Kedepan sebelum mengambil keputusan, saya harus bertanya lagi berulang kali sama diri sendiri;

Apakah benar ini tujuan hidup saya?

Apakah benar saya menikmati proses berada disini?

Apakah orang-orang yang ada, mampu membantu pengembangan diri saya?

Ps: Penasaran dengan cerita casing hello kitty atau pengen tahu jawaban dari “Mau saya apa?”, yuk lah dibaca buku CeweQuat Book 1. Kalo ada yang mau pinjem buku saya, boleh banget loh. 😀

Continue Reading